Tuesday, July 24, 2012

Cerpen untuk Kompas Anak

Okeh, jadi guys.. Ceritanya waktu liburan gue ngirim cerpen ke Kompas Anak. *ehem ehem*

DITERIMA YAAA? MAKANYA DI-UPDATE KE BLOG?

Enggak kok. Gue gak selebay itu. Gue bukan tipe orang yang suka mamer, cuma suka over-excited aja.. Iya.. Jadi cerpen gue itu ditolak... *hiks*

Tapi tenang! Seenggaknya kalo gue update disini, berarti ada yang bikin gue seneng. Yak, jadi gini, pas ditolak gue dikirimin surat. Dikirimin surat guysss sama Kompas! Aaaaa! Senang sekali hatiku.. Tapi yaudah, karena toh gak dimuat juga, kita santap cerpennya disini!


Liburan Tanpa Komputer
            Abner sangat menyukai liburan. Sebab pada saat liburan, ia bebas melakukan apa saja yang ia suka setelah belajar dengan tekun selama 1 tahun. Tetapi liburan kali ini menjadi lebih berkesan bagi Abner, sebab pada awal liburan ini, Papa menghadiahkan Abner seperangkat komputer canggih.
            “Asyik!” seru Abner, saat ia melihat Papa membuka pintu sambil mengangkut kotak komputer.
            “Nah, komputer ini hadiah untuk kamu, Ner. Sebagai hadiah karena kamu berhasil menjadi peringkat pertama di kelas,” jelas Papa. “Tapi ingat, mainnya ingat waktu, ya!”
            Alhasil liburan kali ini hampir seharian Abner bermain di depan komputer barunya. Terlebih setelah Papa menambahkan teknologi internet, Abner semakin tergila-gila bermain komputer.
            “Abner, ayo makan malam dulu!” seru Kak Nana, kakak sepupu Abner.
            “Tunggu sebentar, Kak! Aku lagi nunggu upload foto-nya selesai nih!” jawab Abner.
            “Aduh kamu ini, lagi loading kok ditunggu,” Nana menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik sepupunya.
            Abner melanjutkan memandang layar komputernya. Tiba-tiba, Kika, adiknya yang baru berumur 6 tahun menghampiri.
            “Kak, aku mau main dongg,” rayu Kika, adik Abner.
            “Ah, kamu ganggu saja. Aku belom selesai,” jawab Abner dengan ketus.
            “Ih, Kakak mah. Kan Kakak udah dari pagi!” rengek Kika.
            “Kamu masih kecil! Sana ah!” Abner tetap tak bergeming.
            “Kakak pelit!” Kika memeletkan lidahnya. Abner tidak memedulikan adiknya. Kika akhirnya terpaksa mengalah, percuma saja melawan kakaknya yang lebih tua 3 tahun itu.
            Minggu pagi akhirnya tiba. Di saat seperti ini biasanya Abner dan keluarganya menonton film bersama, tetapi kali ini tidak. Abner lebih memilih menghabiskan liburannya dengan bermain game di komputer.
            “Ner, nanti siang kita ke PRJ, yuk. Diajak Papa,” kata Kika kepada Abner. Pergi ke Pekan Raya Jakarta (PRJ) memang merupakan kebiasaan keluarga Abner setiap liburan.
            “Ahh, kamu ini ganggu terus, sih?” Abner membalas.
            Baru saja Kika akan menjawab, Papa datang. “Ayo Ner, siang ini kita ke PRJ.”
            “Ah, Papa…,” Abner hendak membantah.
            “Sudah, nanti kita mau beli sepatu sama tas baru buat kamu juga. Kamu udah seminggu ini main komputer terus loh.. Nanti kamu pakai kacamata lagi,” Papa menasehati Abner.
            Abner tidak bisa membantah lagi. Jika ia membantah, ia khawatir Papa akan mengambil kembali komputernya. Lagipula, sebetulnya ia memang agak pusing jika berlama-lama bermain komputer. Hanya saja, rasanya sulit untuk berhenti bermain. Apalagi ia mengejar level dalam suatu game di internet.
            “Ayo dong, anak Mama yang ganteng ini kok cemberut saja daritadi,” hibur Mama, “PRJ tahun ini seru lho.” Abner mencibir. Ia jauh lebih senang diam di rumah dan bermain komputer. Tinggal sedikit lagi sebelum dia mencapai level Expert.
“Aku lebih suka di rumah saja dengan Kak Nana!” Abner menggerutu.
“Loh, Kak Nana kan lagi mengerjakan skripsi, Sayang,” jawab Mama dengan sabar.
            “Hei, Abner!” sebuah suara memanggilnya.
            Abner menengok ke belakang. “Eh, Bella! Reyka! Kalian kesini sama siapa?”
            Bella dan Reyka mendekati Abner sekeluarga. “Siang Om, Tante,” senyum mereka kepada Papa dan Mama. “Halo Kika,” sapa mereka kepada Kika. “Bareng papa mama juga, tapi tadi ketemu Reyka jadi aku bareng dia saja,” Bella menerangkan. “Kamu disini sama keluarga saja? Bareng yuk,” ajak Reyka.
            Setelah minta ijin pada Papa dan Mama, serta berjanji untuk bertemu pada jam 5, mereka bertiga menyusuri PRJ.
            “Kalian nggak bosen? Kan enakan di rumah, main game,” celoteh Abner.
            “Ya nggak lah, Ner. Kan main game terus-terusan malah bosen,” bantah Reyka.
            “Iya, aku juga kapok nih, gara-gara main game jadi pakai kacamata. Nggak enak deh,” jawab Bella.
            Abner menaikkan satu alisnya. “Masa sih?”
            Ketiga sahabat itu menghabiskan waktunya dengan penuh canda tawa. Namun sayang, tibalah saatnya mereka berpisah karena jam telah menunjukkan pukul 5 sore.
            “Makasih ya teman-teman!” seru Bella.
            “Iya, makasih juga ya kalian. Ternyata bener, main di luar lebih asyik dibanding hanya main komputer. Lebih seru!” kata Abner sambil tersenyum lebar.
            “Iya dong.. Apalagi mainnya sama anak keren kaya aku!” canda Reyka.
            “Iya deh!” jawab Abner. Mereka kembali mengisi perpisahan hari itu dengan tawa.
            Sesampainya di rumah, Abner yang tadinya ingin bermain komputer lagi berubah pikiran. Ia hanya mengganti baju dan melihat-lihat sepatu barunya, lalu bergegas tidur.
            “Kakak nggak main komputer?” tanya Kika keheranan.
            “Nggak dong, emang kakak-mu ini manusia komputer!” jawab Abner.
            Kika hanya bisa terbengong-bengong melihat perubahan drastis pada kakaknya ini.
            “Kakakmu tadi ngapain aja, Kik? Kok jadi gitu?” Kak Nana yang melihat adegan itu juga heran.
            “Tadi dia pergi sama temannya, Kak. Aneh dia,” Kika menggelengkan kepalanya seperti orang dewasa. Kak Nana tertawa melihatnya.
            “Kak..,” Kika tiba-tiba bergaya sok imut. “Kenapa?” tanya Kak Nana keheranan. “Nyalain komputernya dong, aku mau main!” kata Kika sambil nyengir.
            “Jangan lama-lama main komputernya! Nanti matamu rusak loh!” jawab Abner yang ternyata mendengar Kika dari dalam kamarnya.
            “Ah, Kakak nih ganggu aja! Katanya jangan diganggu kalo lagi main,” ledek Kika.
            Alhasil Kak Nana serta Papa dan Mama yang kebetulan mendengar, tertawa karenanya. Bahkan diam-diam Abner juga nyengir di kamarnya.
            Malam itu, suasana bahagia melingkupi keluarga Abner. Papa dan Mama bangga karena putra mereka ternyata sudah bisa berpikir dewasa. Kak Nana juga tertawa geli karena gemas dengan tingkah kedua adik sepupunya.
Esok harinya, benar-benar terlihat perubahan berkesan pada diri Abner. Bangun pagi, Ia tidak langsung menyalakan komputer melainkan mengambil buku gambarnya. Ya, Abner telah kembali pada kebiasaan lamanya untuk mengisi liburan. Ia juga menemani Kika bermain. Mama tersenyum melihat Abner. Ternyata perubahan Abner bukan hanya untuk sesaat saja.
Benar-benar liburan yang paling berkesan!

Oke. Tenang tenang tak usah kecewaaa gue bakal masukkin cerpen gue ke Kompas Anak nanti!!!

Surat Penolakan Jahanam itu.. Amplopnya tebel, kirain duit T_T

No comments:

Post a Comment