Monday, October 20, 2014

An Abundance of Katherines

Secara pribadi, gue suka dengan nama yang berawalan huruf K. Hal ini juga salah satu faktor yang membuat gue tertarik membaca buku An Abundance of Katherines karya John Green. Nyebutin judulnya aja udah berasa keren abis gue.. En ab├Žndens of kathrins, dibikin brits brits gitu wakakak. Oleh karena itu biarpun gue udah trauma baca bukunya John Green karena seakan-akan selalu ada yang mati, but gue tetep tertarik baca buku ini!

Dan pilihan tepat sekali guys. Karena akhirnya telornya pecah. Jackpot. Ga ada yang meninggal kali ini.


le book

Berkisah tentang Colin Singleton yang selalu suka dengan cewek bernama Katherine. Seumur hidupnya dia udah pacaran dengan 19 Katherine dan selalu diputusin. Tetapi kali ini beda, karena Katherine ke-19 rasanya udah bener-bener orang yang tepat bagi dia. Bersama Hassan, temannya yang merupakan keturunan Arab, mereka berdua berkendara meninggalkan kota Chicago untuk menghilangkan patah hati-nya Colin.

Mereka akhirnya berhenti untuk melihat makam Archduke Franz Ferdinand, itu loh putra mahkota kerajaan sori-lupa-kerajaan-mana yang dibunuh oleh teroris Serbia dan akhirnya memicu Perang Dunia I. Tempatnya ada di suatu daerah agak terpencil bernama Gutshot di Tennesee. Disini mereka diarahkan ke sebuah toko yang dijaga oleh seorang cewek bernama Lindsey Lee Wells. Ternyata dia jugalah tour guide mereka untuk melihat makam sang Archduke. Menarik juga karena Lindsey ini ternyata pacar dari orang yang namanya juga Colin. Lindsey juga ternyata anak dari Hollis, mamanya yang jarang dipanggil Mom, yang punya pabrik terbesar satu-satunya di Gutshot yang memproduksi, uh, tali tampon.

Seluruh cerita berfokus pada Colin dan Hassan yang akhirnya nginep di rumah Lindsey yang gede banget, mereka berdua ditawarin pekerjaan sama Hollis untuk nge wawancara seluruh penduduk Gutshot. Ketika mereka bertiga disuruh wawancara pada penduduk tua, gue jadi ngerasa omg gue mirip banget sama Lindsey dalam beberapa hal. Kemudian gue suka banget cara John Green menceritakan gimana respeknya seluruh penduduk Gutshot terhadap Hollis sang pemilik pabrik. Tapi ironisnya, ternyata pabrik Hollis tuh udah kekurangan pembeli dan 75% dari produksi tali tampon (ih tampon apaan sih) pabriknya cuma menumpuk di gudang karena ngga ada yang beli. Meskipun demikian, Hollis gak mengurangi produksi pabriknya karena itu berarti mecat sebagian besar pekerja pabrik. Ironis.

Cukup sampai situ aja cerita gue.. karena kalian bisa baca sendiri ceritanya. Tapi review gue di paragraf bawah ini juga gak lepas dari spoiler kok, hehehe.

Gue lupa bilang kalo Colin ini adalah anak yang didiagnosis anak ajaib dan dia suka banget buat anagram. Misalnya Monalisa dibikin jadi I am Salon atau semacam itu. Colin sedang ada dalam fase ketika dia sadar kalo dia gak akan pernah jadi jenius (anak ajaib, berarti pandai mempelajari sesuatu, tapi anak jenius menciptakan sesuatu) dan cuma bisa belajar dan sebagainya. Dia juga sebenernya agak suka dipuji dan agak congkak, tapi ya itulah. Dia yakin bahwa dirinya udah ada dalam suatu titik yang mengakhiri masa kejayaannya sebagai anak ajaib. Hassan? Dia orang yang mudah bergaul dengan orang lain tapi juga dikisahkan kalau dia males banget untuk kuliah. Turns out kalo ternyata Hassan ini mencoba menjadi seorang Pelaku dengan melawak dan sebagainya, karena dia sendiri sadar kalo dia belum pernah melakukan apa-apa seumur hidupnya dan cuma bisa ngelawak. Lindsey? Dia tipe orang yang merasa dirinya munafik karena dia selalu cenderung merubah kepribadiannya ketika berinteraksi dengan orang yang berbeda. Lindsey juga gak suka jadi menonjol dan dia pikir, orang yang menonjol atau terkenal adalah orang yang menderita. Makanya dia suka baca Celebrity Living, karena dia menganggap orang terkenal itu menderita banget dan dia mendapat guilty pleasure dengan melihat orang menderita. Berbeda banget dengan pendapat stereotip Colin yang nganggep kalo orang yang baca majalah itu adalah orang-orang yang.. gitu deh.

Ceritanya menurut gue seru banget. Secara pribadi gue gak suka dengan cerita yang terlalu banyak konflik atau yang bikin deg-degan gak enak. Makanya aneh juga ya kalo gue suka Harry Potter dan Percy.. (Tapi ada unsur sekolah asrama disana yang gue suka so shut up). Ceritanya John Green biasanya gak memasukkan cerita yang kalo digambarin alur ceritanya, garisnya itu gak naik secara dramatis. Kedinamisan buku-buku John Green amat sangat terkontrol, tapi kalo digambarin dengan alur tadi, garisnya tebel. Jadi maksud gue, biarpun dengan alur yang gak gimana-gimana banget, ceritanya entah kenapa seru dan ngena abis, pake banget-sangat-amat-dll.

Di awal cerita, Colin menganggap Lindsey gak asik karena dia baca Celebrity Living dan berbagai prasangka lainnya. Tapi seiring cerita berjalan, ternyata Lindsey adalah orang yang bener-bener keren banget (bagi gue juga dia keren!). Gue udah bisa nebak sih dari pas Lindsey yang berkorban ngajarin Colin menembak pake senapan sampai kasih tau Colin tempat persembunyiannya, kalo ada apa-apa diantara mereka. Tapi tetep, momen ketika:
“That’s who you really like. The people you can think put loud in front of.”
“The people who‘ve been in your secret hiding places.”
“The people you bite your thumb in front of.”
“Hi.”
“Hi.”
“…”
“…”
“Wow. My first Lindsey.”
“My second Colin.”

J A C K P O T. Yahoooo! Love ya, Sir John Green! Oke gue freak.

Momen-momen Colin dan Katherine XIX juga gak kalah sweet kok wakakak, but gue males ketikin ulangnya so bye, K. Tapi ending ini boleh dibilang dream come true banget. Andai aja Alaska juga bisa kayak gini sama… shit gue lupa bahkan tokoh utamanya siapa. Andai aja Gus sama (umm… Grace?) bisa kayak gini juga. Duh duh duh. Tapi 2 buku (tragis) yang gue baca sebelumnya itu justru bikin An Abundance of Katherines spesial banget.

Ngomong-ngomong buku ini punya banyak banget footnote jadi mesti sabar ya. Udah gitu ada banyak grafik kartesius yang bikin pusing, rumus Matematika yang untungnya gak perlu dikerjain, lalu lampiran dari Daniel Biss yang katanya salah satu ahli Matematika muda di Amerika. Tapi justru itu yang ngebuat buku ini spesial. Apalagi gue sendiri merasakan beberapa keterkaitan dengan beberapa kepribadian ataupun pemikiran John Green yang dituangkan dalam buku ini melalui karakter-karakternya.

So recommended!
4.9/5.0


No comments:

Post a Comment