Wednesday, October 29, 2014

Random #5: Nasi Garam

Tau nasi garam?

Pertama kali gue denger soal nasi garam adalah ketika gue baca majalah Bobo sewaktu SD. Ada rubrik dimana pembaca mengirim cerita pendek mengalami pengalaman menarik mereka dan salah satu dari cerita tersebut berkisah tentang nasi garam. Si pengirim yang ternyata merupakan seorang kakak ini pada suatu hari menonton sebuah tayangan di televisi mengenai orang tidak mampu. Dalam tayangan televisi tersebut, untuk mengakali keterbatasan lauk, si ‘bintang acara’ menggunakan garam. Lalu si pengirim cerita menjadi penasaran dan dia mencoba membuat bola-bola nasi garam ini untuk dia dan adik-adiknya.

Dari kecil gue selalu penasaran rasanya bola-bola nasi garam ini kayak apa, tapi an rasanya bola-bola nasi garam ini kayak apa, tapi you know, gue males banget banget dan belom pernah kesampean nyoba bikin sampe sekarang. Yang jelas ketika dulu bokap gue marah-marah, “Makan gak! Kalo ngga pakein garem aja sekalian,” gue selalu dalam hati, iya ayo mendingan makan garem! Hahaha rebel me.

Hari ini akhirnya gue kesampean bikin nasi garam… *JENG JENG JENG JENG*

Dan gak seenak yang gue bayangkan selama ini.. *hoek hoek hoek*

Ternyata rasanya freak abis dan kayaknya nasinya harus super panas deh supaya rasanya jadi lumayan. Yang jelas gue masih gangerti apaan itu yang tadi gue makan.. Gak semua makanan enak ternyata kalau ditambahin garam :’) Untung aja dulu bokap gue gak beneran kasih gue makan garem yaoloh..

Begitulah, terkadang banyak banget hal yang ujung-ujungnya “gak seperti yang kita bayangkan”. Ketika lo pikir, “Ih enak ya kalo gue ikutan ke Dufan tadi,” pikir lagi deh. Mungkin aja kalo lo ikut ajakan temen lo ke Dufan sesampainya di Dufan lo malah, “Aduh gue jadi bokek banget nih gara-gara ke Dufan, mana kaki gue kram, temen-temen gue gamau foto bareng pula.” *LOH CURHAT* (Maafkan penulis akan ketidakrelevanan ini). Tapi serius gue syit, coba kita semua pikir-pikir lagi ketika kita mengidam-idamkan hidup orang lain. Sanggup, kita merasakan duka mereka yang gak kita tau? Banyak loh, sisi lain seseorang yak kamu tidak tau. Misalnya nih gue punya seorang teman yang tidak mau disebut namanya. Di sekolah sih dia laga-lagaan dikuncir gamau digerai, ee eee sekalinya ke party dan digerai seneng juga dia. Terus di ask.fm-nya: “Hehe sebenernya malu sih tapi ini deh gapapa” HALAH. HAALAAHH. Contoh yang konkret kan? Sekilas dia terlihat tak suka digerai, ternyata bruh..


Selalu jadi nyasar ke filosofis gini ya yaelah. Dan btw gue selalu jijik deh kalo di awal setiap post, gaya bahasa gue mendadak sok EYD getoh.

Monday, October 20, 2014

An Abundance of Katherines

Secara pribadi, gue suka dengan nama yang berawalan huruf K. Hal ini juga salah satu faktor yang membuat gue tertarik membaca buku An Abundance of Katherines karya John Green. Nyebutin judulnya aja udah berasa keren abis gue.. En ab├Žndens of kathrins, dibikin brits brits gitu wakakak. Oleh karena itu biarpun gue udah trauma baca bukunya John Green karena seakan-akan selalu ada yang mati, but gue tetep tertarik baca buku ini!

Dan pilihan tepat sekali guys. Karena akhirnya telornya pecah. Jackpot. Ga ada yang meninggal kali ini.


le book

Berkisah tentang Colin Singleton yang selalu suka dengan cewek bernama Katherine. Seumur hidupnya dia udah pacaran dengan 19 Katherine dan selalu diputusin. Tetapi kali ini beda, karena Katherine ke-19 rasanya udah bener-bener orang yang tepat bagi dia. Bersama Hassan, temannya yang merupakan keturunan Arab, mereka berdua berkendara meninggalkan kota Chicago untuk menghilangkan patah hati-nya Colin.

Mereka akhirnya berhenti untuk melihat makam Archduke Franz Ferdinand, itu loh putra mahkota kerajaan sori-lupa-kerajaan-mana yang dibunuh oleh teroris Serbia dan akhirnya memicu Perang Dunia I. Tempatnya ada di suatu daerah agak terpencil bernama Gutshot di Tennesee. Disini mereka diarahkan ke sebuah toko yang dijaga oleh seorang cewek bernama Lindsey Lee Wells. Ternyata dia jugalah tour guide mereka untuk melihat makam sang Archduke. Menarik juga karena Lindsey ini ternyata pacar dari orang yang namanya juga Colin. Lindsey juga ternyata anak dari Hollis, mamanya yang jarang dipanggil Mom, yang punya pabrik terbesar satu-satunya di Gutshot yang memproduksi, uh, tali tampon.

Seluruh cerita berfokus pada Colin dan Hassan yang akhirnya nginep di rumah Lindsey yang gede banget, mereka berdua ditawarin pekerjaan sama Hollis untuk nge wawancara seluruh penduduk Gutshot. Ketika mereka bertiga disuruh wawancara pada penduduk tua, gue jadi ngerasa omg gue mirip banget sama Lindsey dalam beberapa hal. Kemudian gue suka banget cara John Green menceritakan gimana respeknya seluruh penduduk Gutshot terhadap Hollis sang pemilik pabrik. Tapi ironisnya, ternyata pabrik Hollis tuh udah kekurangan pembeli dan 75% dari produksi tali tampon (ih tampon apaan sih) pabriknya cuma menumpuk di gudang karena ngga ada yang beli. Meskipun demikian, Hollis gak mengurangi produksi pabriknya karena itu berarti mecat sebagian besar pekerja pabrik. Ironis.

Cukup sampai situ aja cerita gue.. karena kalian bisa baca sendiri ceritanya. Tapi review gue di paragraf bawah ini juga gak lepas dari spoiler kok, hehehe.

Gue lupa bilang kalo Colin ini adalah anak yang didiagnosis anak ajaib dan dia suka banget buat anagram. Misalnya Monalisa dibikin jadi I am Salon atau semacam itu. Colin sedang ada dalam fase ketika dia sadar kalo dia gak akan pernah jadi jenius (anak ajaib, berarti pandai mempelajari sesuatu, tapi anak jenius menciptakan sesuatu) dan cuma bisa belajar dan sebagainya. Dia juga sebenernya agak suka dipuji dan agak congkak, tapi ya itulah. Dia yakin bahwa dirinya udah ada dalam suatu titik yang mengakhiri masa kejayaannya sebagai anak ajaib. Hassan? Dia orang yang mudah bergaul dengan orang lain tapi juga dikisahkan kalau dia males banget untuk kuliah. Turns out kalo ternyata Hassan ini mencoba menjadi seorang Pelaku dengan melawak dan sebagainya, karena dia sendiri sadar kalo dia belum pernah melakukan apa-apa seumur hidupnya dan cuma bisa ngelawak. Lindsey? Dia tipe orang yang merasa dirinya munafik karena dia selalu cenderung merubah kepribadiannya ketika berinteraksi dengan orang yang berbeda. Lindsey juga gak suka jadi menonjol dan dia pikir, orang yang menonjol atau terkenal adalah orang yang menderita. Makanya dia suka baca Celebrity Living, karena dia menganggap orang terkenal itu menderita banget dan dia mendapat guilty pleasure dengan melihat orang menderita. Berbeda banget dengan pendapat stereotip Colin yang nganggep kalo orang yang baca majalah itu adalah orang-orang yang.. gitu deh.

Ceritanya menurut gue seru banget. Secara pribadi gue gak suka dengan cerita yang terlalu banyak konflik atau yang bikin deg-degan gak enak. Makanya aneh juga ya kalo gue suka Harry Potter dan Percy.. (Tapi ada unsur sekolah asrama disana yang gue suka so shut up). Ceritanya John Green biasanya gak memasukkan cerita yang kalo digambarin alur ceritanya, garisnya itu gak naik secara dramatis. Kedinamisan buku-buku John Green amat sangat terkontrol, tapi kalo digambarin dengan alur tadi, garisnya tebel. Jadi maksud gue, biarpun dengan alur yang gak gimana-gimana banget, ceritanya entah kenapa seru dan ngena abis, pake banget-sangat-amat-dll.

Di awal cerita, Colin menganggap Lindsey gak asik karena dia baca Celebrity Living dan berbagai prasangka lainnya. Tapi seiring cerita berjalan, ternyata Lindsey adalah orang yang bener-bener keren banget (bagi gue juga dia keren!). Gue udah bisa nebak sih dari pas Lindsey yang berkorban ngajarin Colin menembak pake senapan sampai kasih tau Colin tempat persembunyiannya, kalo ada apa-apa diantara mereka. Tapi tetep, momen ketika:
“That’s who you really like. The people you can think put loud in front of.”
“The people who‘ve been in your secret hiding places.”
“The people you bite your thumb in front of.”
“Hi.”
“Hi.”
“…”
“…”
“Wow. My first Lindsey.”
“My second Colin.”

J A C K P O T. Yahoooo! Love ya, Sir John Green! Oke gue freak.

Momen-momen Colin dan Katherine XIX juga gak kalah sweet kok wakakak, but gue males ketikin ulangnya so bye, K. Tapi ending ini boleh dibilang dream come true banget. Andai aja Alaska juga bisa kayak gini sama… shit gue lupa bahkan tokoh utamanya siapa. Andai aja Gus sama (umm… Grace?) bisa kayak gini juga. Duh duh duh. Tapi 2 buku (tragis) yang gue baca sebelumnya itu justru bikin An Abundance of Katherines spesial banget.

Ngomong-ngomong buku ini punya banyak banget footnote jadi mesti sabar ya. Udah gitu ada banyak grafik kartesius yang bikin pusing, rumus Matematika yang untungnya gak perlu dikerjain, lalu lampiran dari Daniel Biss yang katanya salah satu ahli Matematika muda di Amerika. Tapi justru itu yang ngebuat buku ini spesial. Apalagi gue sendiri merasakan beberapa keterkaitan dengan beberapa kepribadian ataupun pemikiran John Green yang dituangkan dalam buku ini melalui karakter-karakternya.

So recommended!
4.9/5.0


Saturday, October 11, 2014

John Green and His Jackpot

I always like the word 'green', it's so simple yet you can imagine a lot of nuance (I wouldn't say things, that's so tangible, boo). Undepictable, but I will say hearing the word green would make me think of something butter-sweet, peaceful, cool, et cetera cetera. Also that's funny to see the woed green written with colours but green. Now that John Green is a worldwide-known writer and I also happen to like his books except for The Fault in Our Stars, I wanna talk about him.

He is that one-of-a-kind writer who likes to pick such mainstream genre in an anti-mainstream style. Love story? Lame. But love story which involves a guy and a gurl who has another guy but they are platonic or a so-me guy with a so-me girl (i mean hopeless, dreamless, that stuff)? That's something. Also I admire the way he shows us that he did sooo much damn useless research for all the minor-but-major details in his books. I bet those aren't something you can just type in that search bar on google.com. And making those anagrams? Either he is a genius or he is a diligent freak who spent like 20 minutes more for every anagrams he created. But duh, maybe that can only be because English is really his thing but no, you don't tell me stuff like that. I knew it. I'm just amazed.

Sadly his stories are always ended with an unfavorable ending for readers. According to my experience, death is inevitable. Or they just don't get together. Or or or and another or. It maps my mind and I'm just being traumatic for reading more books of him.

GOSH,
That's before I finally made my mind to try reading An Abundance of Katherines. And after peeking to its ending, I think I've hit the jackpot this time.

(random thoughts while blank-reading page 139)

[YOU WILL DEFINITELY GET MY REVIEW ON THIS BOOK BECAUSE I'M SO IN LOVE WITH THIS BOOK RIGHT NOW.]

Friday, October 10, 2014

Bahagia itu Sederhana

The one and only Ghost Only

Gue suka banget sama komik berjudul Ghost Only. Komik ini cuma one-shot di Indonesia dan gue dapet ketika gue ulang tahun di tahun 2008 dari temen SD gue, Angelline. Komik ini terlalu bagus sampe akhirnya sekarang gue terus aja nyoba nyari komik one-shot yang sebagus ini, tapi ga ketemu-temu.

Gue sukaa banget baca ulang komiknya dan selalu bisa ketawa. Satu hal yang gue benci adalah komik ini seakan gak tuntas, gue gatau nasib dari para pekerja restorannya, gue gatau kelanjutan si Ema sama Ren. Meskipun yang paling nyesek sih, gue gatau kenapa si Enomoto bisa meninggal dan.. dia tuh beneran banci apa engga.

Hari ini gue tiba-tiba ketemu lagi komiknya dan gue iseng-iseng cari lanjutannya gitu.

HOLYMOTHERSHEET!!!!!!!!!!! TERNYATA MASIH ADA 6 CHAPTER LANJUTANNYA. MESKIPUN BELOM BISA BACA SEKARANG KARENA INTERNET LEMOT TAPI HARAPAN SEKECIL INI AJA CUKUP.

Bahagia itu sederhana.

Terpuruk

Gue lagi niat banget beberes dan tiba-tiba pandangan gue tertuju ke lemari komik *tsahh* terus gue jadi pengen bongkar koleksi sebentar. Kebetulan juga ada orang yang pernah nitip mau minjem komik ke gue gitu kan.

Pas gue lagi mencari komik yang dimaksud, duh ternyata dalem banget itu komik. Gue mesti bongkar beberapa tumpukan dulu supaya berhasil ngeluarin komik yang dimaksud. Terus selagi dalam pencarian, gue menemukan komik yang bahkan udah lupa pernah gue beli. Misalnya ada komik Arsene Lupin yang gue beli cuma gara-gara gue lagi tergila-gila sama Holmes, dan Lupin ini bisa dibilang detektif fiktif kompetitornya. Atau ada juga komik Magic Kaito lengkap 4 seri, jangan bilang lo fans Conan men kalo belom punya Magic Kaito. Cuma yang spesial adalah, gue ketemu komik Dan Doh.

Jadi ceritanya ketika gue suatu hari di bulan Februari 2009 ada bazaar buku, nyokap gue yang masih dalam fase dermawan ngebelin gue komik (diskonan). Baik banget kann doi, 179° deh sama sekarang, biarpun dulu diskonan juga. Hanya saja kekurangan dari nyokap adalah dia selalu beli komik yang random, udah gitu berseri, dan cuma satu komik. Ya dibeliin semua serinya dong mi gimana sih.. Jadi gitu deh, gue bingung juga mau baca komiknya.

Salah satu komik random itu adalah Dan Doh. Ketika gue bolak balik halamannya, gue syok. Ternyata ini cerita yang gue rasa gak pernah gue baca sebelumnya.. Bahkan ketika gue yakin banget gue pernah baca ini komik freak duluu banget, gue yakin gue pernah baca. Tapi gue kayak ga tau jalan ceritanya dan baru ngerti sekarang.. Gue seneng karena menemukan hal baru di tengah lembaran lama hidup guee :') CIE ABIS.

Setelah gue pikir-pikir, banyak banget komik lama gue yang kalo gue baca lagi juga pasti berasa belom pernah baca sebelumnya. Padahal dulu gue selalu baca ulang komik yang gue punya ketika liburan kenaikan kelas yang-boring-banget-menurut-gue. Tapi teknologi merubah segalanya.. sekarang tiap libur gue pasti sibuk dengan HP atau laptop dan malah merasa kalo waktu libur terlalu sedikit. Udah gitu komik gue juga makin menggunung, miris banget ketika zaman dulu komik gue masih sedikit gue bahkan bisa inget cerita tiap volume komiknya, sekarang sih udah lain cerita. Mau baca ulang semua komik gue? Haha biarpun udah gue singkirin ini HP juga tetep aja ga ada waktu. Mau baca ulang kapan? Abis UN gue bakal sibuk banget belajar lagi. Abis tes perguruan tinggi gue bakal sibuk lagi juga. Pas kuliah gue bakal sibuk. Pas kerja gue bakal sibuk.

Gue kangen banget masa kecil gue dimana gue punya banyaaak waktu untuk segala hal. Dan gak mikirin segala hal. Hft.

Wednesday, October 8, 2014

Triangle Point

Gue baru aja nonton The Giver.

Entah kenapa, sekarang ini banyak banget film yang bertemakan masyarakat futuristik di masa depan, masyarakat yang dengan segala cara menentang keburukan masyarakat masa kini. Ambil contoh The Hunger Games, Divergent, The Maze Runner, ataupun The Giver.

Sebenernya gue agak kurang suka sih dengan tema kayak gini, terkesan terlalu mengandai-andai. Film-film ini memiliki kesamaan, semuanya rata-rata bercerita soal masa depan yang hancur karena kebobrokan masyarakatnya yang lalu diikuti dengan segala upaya demi menghilangkan kebobrokan itu. Caranya berbeda, tapi nyaris kesemuanya menggambarkan upaya pemberontakan dari sistem baru tersebut. Which is agak mainstream sih, menurut gue.

Tapi The Giver menunjukkan contoh yang sangat esktrem. Tidak seperti The Hunger Games yang memiliki tradisi tahunan yang kejam, Divergent dengan intrik di antara (err lupa namanya) kelompoknya, atau The Maze Runner dimana mereka memberontak untuk bisa keluar dari labirin dan ternyata dihadapkan dengan kenyataan kalau mereka dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar; tetapi The Giver justru menghilangkan itu semua dan sekilas komunitasnya berhasil mewujudkan suatu masyarakat yang ideal.

Jujur aja gue kagum pas nonton The Giver. Ga ada adegan bunuh-bunuhan yang brutal, film ini justru menunjukkan kehidupan yang harmonis. Harmonis dalam tanda kutip, karena ternyata ada sesuatu yang menghilang dari masyarakat. Ini baru film kece..

Ya, nonton aja sendiri filmnya karena ga seru kalo gue spoiler-in heuheu. Yang menarik justru karena gue nonton ini ditengah polemik anak kelas 12 dalam memilih jurusan kuliah..

Rasanya iri, ketika pada usia tertentu lo tinggal dipilihin pekerjaan sama Elder (COC abis) yang udah liat potensi lo sehari-hari. Walaupun hak kita untuk memilih seakan dihapuskan, tapi gue ngerasa kalo cara itu enak banget.. Ga usah pusing-pusing mikirin apa yang kita mau karena udah ada orang yang berpusing-pusing ria buat kita. Udah gitu apa yang kita lakukan juga yaa pasti berhasil-berhasil aja, ga ada tuntutan lebih kurang dalam masyarakat.

Ngomong gue mungkin agak ngaco ya wkwk. Gue agak lelah sih mikirin hal ini berkali-kali dan berulang-ulang. Seakan-akan gue ada di ambang batas.. Apalagi dengan pilihan yang gue ambil, gue akan mengorbankan (agak) banyak hal. Dalam prosesnya, kayaknya sekarang gue juga kehilangan idealisme lama gue. It's hard to try :( Belom lagi akan ada beberapa orang yang yahh, gimana ya. Mind you, this ain't your life. Sacrifices are made for a better good!

Semoga pilihan ini yang terbaik!

Tuesday, October 7, 2014

Our Little Secret

09.20.2014

Gue lagi naik mobil di jalan tol, biasa deh ngeliatin gedung-gedung. Lalu tiba-tiba mata gue ngeliat gedung Carrefour, "Itu bahasa Prancis artinya perempatan tau," tiba-tiba gue keinget kata-kata si Aaron waktu pelajaran Bahasa Inggris setahun lalu. Tapi gue juga tiba-tiba keinget sama guru musik gue pas SD dulu.

Namanya Pak Ib, orangnya galak (hahaha). Satu hal yang gue inget dari dia dan gue selalu coba lakukan, adalah: "Jangan ngapalin partitur! Baca!" Di lagu pertama yang dia ajarin ke gue di kelas 3 (judulnya Mari Menyanyi, btw, sedih masa melodinya…), gue masih ngapalin nada recordernya. Gimana ya, gampang banget gitu jadi gue otomatis hafal.. Tapi lagu-lagu kedua dan seterusnya gue mencoba banget gak ngapalin partitur. Mungkin karena gue masih kecil dan polos, tapi ini pertama kalinya gue bener-bener denger kata-kata orang.

Nilai gue di pelajaran dia lumayan, tapi kalo pas pelajaran nyanyi hancur total T_T Emang deh kalo musik sama olahraga gue paling pasrah kkm aja sujud syukur wkwkw. Pas ujian akhir sayangnya gue cari aman dengan mainin Lenggang Padi (padahal gue bisa Gending Sriwijaya, dammit) dan ujian nyanyi gue juga tidak berjalan baik.. Tapi ya begitulah.

Kembali lagi ke Carrefour. Lo tau gak sih loho Carrefour tuh sebenernya apa?

Suatu hari di kelas 6, tiba-tiba dia liat plastik Carrefour dan dia bilang, "Kalian tau gak arti logo ini apa? Kemaren tetangga saya pulang bawa plastik Carrefour dan saya tanya dia. Dia gak tau, lalu saya bawa keluar spidol dan saya tunjukkin arti logo ini apa. Dia bilang, oh iya ya pak." Tapi dia gak kasih tau ke kita semua arti logo nya apa, dia bilang cari sendiri.

Kebetulan waktu itu di depan komplek rumah gue baru dibangun Buaran Plaza dan ada Carrefour. Gue pulang naik jemputan dulu. Setiap hari, setiap kali gue lewatin mall-nya, gue bener-bener mikir ini logo artinya apa. Gue mikir, apaan sih yang bisa ditunjukkin pake spidol tentang logo ini, apa gue mesti tambahin sesuatu? Gue mikir lama banget.

Suatu hari di entah hari keberapa, akhirnya gue tau jawabannya!!!! Gue ga akan spoiler in jawabannya sih hahaha, tapi sejak tau artinya gue gak lagi ngeliat logo Carrefour dengan cara yang sama lagi. Logo ini jadi lebih punya arti. Di sisi lain gue juga bangga karena gue pikir cuma gue dan si Pak Ib dan si pembuat logo yang tau artinya, I'm selfishly proud. Tapi kalo kalian ternyata udah tau... ya gapapa, gue bangga gue bisa cari artinya sendiri :') dan ini mungkin pertama kalinya kata-kata sesumbar dari seorang guru tanpa sadar gue jadiin PR tersendiri.

Sekarang Pak Ib udah meninggal. Gue agak syok waktu dengernya, tapi setidaknya gue cukup bangga pernah diajar beliau. Berkat Bapak saya jadi gak tolol-tolol amat di musik, seenggaknya saya bisa baca not balok dan lancar not huruf (tapi gak bisa not angka..).Kita gak pernah ngomongin lagi soal logo Carrefour ini di kelas, tapi semoga disana Bapak tau, kalau saya udah berhasil tau arti logonya.

---

Ngomong-ngomong ini not Mari Menyanyi:
c c b a g | a a g f e | d d e f g | g g b a c