Thursday, May 11, 2017

Kali ini enggak #random: mengurus paspor sendiri

Menjadi seorang warga negara yang baik adalah cita-cita gue dari dulu. Gue bahkan pernah cerita sama seorang teman kalo salah satu hal yang gue pengen lakukan adalah ikut sidang kalo ditilang buat SIM. Lol, not that I wish to break the rule, but shit happens and when the time comes, I want to take the responsibility by not taking a short cut bribing officers. Reason number two would be that I am.. a very honest person, it will be more suitable to say that I'm a coward, though. I easily feel guilty when I'm at fault so yeah.

Terus gue seneng banget karena kemarin ini akhirnya gue berhasil survive di birokrasi Indonesia dan berhasil mengikuti peraturan dengan baik: gue berhasil bikin paspor tanpa pake calo! Paspor gue akan habis masa berlaku di bulan Juni nanti sedangkan untuk keperluan ke luar negeri, banyak banget nih yang mensyaratkan untuk punya paspor dengan masa berlaku masih tersisa lebih dari 6 bulan. Hence, gue memutuskan untuk membuatnya secepat mungkin.

Tapi gue menemukan banyak banget hambatan dalam pembuatannya sebenarnya. Proses pembuatan paspor online yang dibilang orang-orang memudahkan banget itu nyatanya, sialnya sih lebih tepatnya, lagi down beberapa bulan belakangan! Gue udah rajin banget ngecek website-nya dan gak bisa sampai akhirnya 23 Maret 2017, boom, ada pengumuman resmi tentang fitur pembuatan paspor online yang dihapus sementara karena ada lalalalala sampai waktu yang tidak ditentukan. Akhirnya gue memutuskan untuk membuat paspor secara normal aja. Nah, tapi banyak banget nih kesimpangsiuran akan hal ini, karena ya sebagian besar orang membuat paspor dengan pake calo, travel agent, atau kalau pernah bikin sendiri pun cuma lima tahun sekali. Dengan post ini, gue berharap kalian semua tergerak untuk membuat paspor sendiri dan enggak nunda-nunda jam berangkat ke kantor imigrasinya.. :) nanti juga tau sendiri apa maksudnya muahaha.

Disclaimer: the story to be told is based on user's experience at Kantor Imigrasi Kelas II Kota Bekasi. Experiences may vary.

Gue lagi kuliah dan jadwal gue cukup penuh, jadi kalaupun gue bikin paspor itu pasti nyempet-nyempetin banget dan tergantung jadwal kuliah gue. Kemarin, gue mendapat kabar kalau bikin paspor itu harus sesuai dengan domisili kita di KTP, which is dengan kasus gue, berarti gue harus bikin paspor di Bekasi. Sehubungan dengan adanya libur Pilkada putaran dua kemarin *still sad*, gue memutuskan kalau ini adalah kesempatan yang bagus banget buat gue bikin paspor di Bekasi karena pasti mereka gak libur.

Rabu, 19 April 2017
Gue udah mempersiapkan semua berkas untuk membuat paspor yang gue lihat di website imigrasi. Gak hanya berkas asli, gue juga mempersiapkan dokumen fotokopinya yang sayangnya, engga dibahas di website imigrasinya. Ini gue dapet dari nyari-nyari juga pengalaman di blog orang mengenai pembuatan paspor. Karena gue ingin memperpanjang paspor, maka yang gue persiapkan adalah:
  1. Kartu keluarga asli
  2. Fotokopi kartu keluarga
  3. Ijazah SMA asli (ini subtitutable dengan akte kelahiran, surat baptis, maupun surat nikah. Yang penting adalah dokumen yang memuat nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, serta nama orangtua)
  4. Fotokopi ijazah SMA
  5. KTP
  6. Fotokopi KTP (ingat! KTP-nya harus difotokopi di kertas A4 dan gak boleh digunting mengikuti ukuran KTP-nya gitu)
  7. Paspor lama
  8. Fotokopi paspor lama, halaman depannya aja yang ada identitas diri
  9. Materai Rp6.000 untuk mengisi formulir di dalam kantor imigrasinya nanti
Gue cukup deg-degan sebenarnya masalah dokumen begini gara-gara pernah bolak-balik bank berkali-kali gagal sehingga gagal terus bikin rekening. Jadi gue agak merasakan parno berlebih sih memang pas nyiapin dokumen ini..

Temen gue cerita kalau dia bikin paspor di imigrasi Jakarta Barat dan dia datang jam setengah 7, lalu kelar melakukan semuanya jam setengah 10 pagi. Gue akhirnya mau nyontoh ini juga dong, dan memutuskan untuk datang jam setengah 7 juga.

But alas, I was damn wrong...

Gue pernah ketawa gara-gara baca blog dan dia kaget imigrasi Bekasi itu rame banget, dia ga nyangka ternyata banyak banget orang Bekasi yang mau ke luar negeri. Waktu itu dia dateng jam 8 dan dapet nomor antrian 199. WOY INI GUE DATENG SETENGAH 7 BISA NOMOR 400 KALI.

Terus sialnya lagi adalah setengah dari pegawai imigrasinya ber-KTP DKI Jakarta sehingga hari itu mereka ga beroperasi at full capacity dan dipatok quota cuma sampai nomor antrian 230. (Aneh sih tapi pas ditanya normalnya berapa, dijawab 230 juga sama si bapak hmm..) Gue batu gitu dan memutuskan untuk nunggu sampai titik nadir hahaha bahkan ketika udah diitungin yang akan dapet nomor antrian dan gue dipastikan engga dapet, gue masih nekat ngantri. Jam setengah 8 akhirnya udah 230 orang yang masuk dan gue.. gagal. Terpaksa harus kembali lagi besok harinya.

Kamis, 20 April 2017
Karena kemarin gagal akibat kesiangan, kali ini gue memutuskan untuk dateng lebih pagi. Yak, gue dateng... jam 4 pagi. Nice. Bahkan ketika jam 4 itu gue udah urutan ke-18 :)) Luar biasa memang orang-orang.

Tips: bawa koran untuk alas duduk. Beruntung orang di belakang gue itu bawa koran bekas dan dia nawarin gue satu, jadilah gue duduk di situ SEMBARI NONTON 13 REASONS WHY luar biasa nyambungnya. Memasuki jam 5 akhirnya gue merasa ngantuk dan gue.. ketiduran sambil duduk sampai jam 6 pagi.

Jam setengah 7, akhirnya mulai dipersilahkan nih semuanya untuk maju mengambil nomor antrian. Sebelum itu terlebih dahulu dicek apakah kita semua telah membawa dokumen asli yang telah gue sebutkan di atas.

Gue menunggu cukup lama untuk giliran pengecekan berkas. Selagi menunggu, kita diminta untuk mengisi formulir perpanjangan KTP. Dan lo tau apa yang gue temukan.. ternyata tempat lahir gue yang selama ini harusnya di Bekasi (menurut akte), tiba-tiba jadi di Jakarta pada KTP dan Kartu Keluarga. Langsung papuy juga bun, gue khawatir banget kalo hal ini akan menjadi masalah ketika verifikasi berkasi dan emang demi apapun gue jadi mules banget gara-gara hal ini. Masa iya paspor gue mau ditolak dan gue nunda lagi bikin paspornya?

Beruntung sepertinya mbaknya lagi ngablu juga dan gak sadar akan perbedaan data tersebut. Gue emang menuliskan di formulirnya tempat lahir gue di Bekasi sih dan itu sama dengan data yang ada di paspor lama gue, jadi gue lolos verifikasi berkas. Asli gue gemeteran pas verifikasi berkas muahaha.

Selesai verifikasi, gue diberikan nomor antrian lagi untuk foto dan wawancara. Fotonya berjalan cepat dan gue senang fotonya lumayan bagus, akhirnya gue bisa mengubah foto paspor jelek di tahun 2012 itu, lol. Untuk sesi wawancara gue sesungguhnya tidak begitu khawatir mengenai tempat lahir karena sudah lolos sesi verifikasi sebelumnya. Tetapi gue, karena ga tahan banget kalo ada sesuatu yang ga sesuai, dengan polos bertanya, "Mbak, kalo data tempat lahir saya beda gimana ya?"

Jeng jeng.

TENANG TENANG gue gak disuruh pulang! Akhirnya mbaknya cuma bilang supaya pas mengambil gue membawa surat dari kelurahan semacam pernyataan yang menyatakan bahwa walaupun bertempat lahir berbeda, Angela Monalisa Kurniawan di akte (well, gue pake ijazah sih) dan KK adalah orang yang sama. Ini agak rempong sih tapi gapapa deh, setidaknya gue lega karena sudah melalui prosedur yang benar. Sesudahnya gue harus membayar di bank dan disarankan melalui teller dalam waktu maksimal 7 hari kerja sejak permohonan paspor dibuat. Ini mepet parah banget sih karena gue gak tau ada maksimal bayar! Untungnya gue bayar di hari kelima setelah permohonan dibuat, gila sih ini. Setelah dibayar, lima hari kerja kemudian paspor kita dapat diambil di kantor imigrasi bersangkutan.

Oh ya, dengan nomor urut 17, gue selesai verifikasi-foto-wawancara jam setengah 10 pagi.

update!
Oh iya, gue juga akhirnya bertanya sama mbaknya apakah boleh gue yang ber-KTP di Bekasi membuat paspor di Jakarta Timur, dan ternyata boleh karena sistemnya sekarang sudah online! (sistemnya ya, yang online, bukan pembuatan paspor online jadi jangan khawatir). Kalo misalnya kita KTP Bekasi, itu boleh bikin di Jakarta Timur kek, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Depok juga gapapa (gue cerita kalo gue kuliah di Depok). Lain lagi ceritanya kalau gue bikin KTP di Surabaya, itu perlu keterangan domisili tuh karena kan aneh kalau misalnya gue rumah di Bekasi tapi jauh-jauh ke Surabaya cuma untuk bikin paspor. Well, you get my point.

Selasa, 9 Mei 2017
Karena kebetulan hari ini tidak ada kelas pagi, gue memutuskan untuk mengambil paspor. Sebetulnya untuk pengambilan gue hanya perlu bawa formulir dari orang imigrasi beserta bukti pembayaran dan KTP, tapi emang dasar panikan, gue mules aja gitu selagi menunggu.. Gue takut ada apa-apa dan semua ini sia-sia :(

Gue berangkat dari rumah jam setengah 7, dibawa muter abang Gojek lewatin Galaxy sampe mau marah (tapi abangnya sudah tua dan gue tidak tega..), lalu akhirnya tiba di kantor imigrasi jam setengah 8 pagi. Saat itu gue mendapat nomor antrian 22 dan baru pada pukul 9 akhirnya dipanggil untuk mengambil paspor. FYI, pemanggilan nomor antrian paspor baru dimulai pada pukul 8.

Saat tiba giliran gue, gue langsung memberikan berkas yang dibutuhkan dan.. voila! Ga butuh waktu lama paspor gue sudah di tangan! :') OMG bangga banget rasanya karena ini paspor yang gue urus dan buat sendiri, I feel like accomplishing something! Mantap!

Akhirnya jadi juga!
Membuat paspor sendiri itu ternyata bisa banget loh dilakukan dan gue sangat men-encourage kalian untuk mengurusnya sendiri! Sistemnya sekarang juga bagus banget, pembayaran dilakukan di bank jadinya engga ada deh tuh pungli antara masyarakat dengan petugas.

Jangan ketakutan juga dengan waktu tunggu yang dari jam 4 pagi itu. Sebenernya bisa aja sih lo dateng jam 5 atau 6 gitu dan kemudian setelah mengambil nomor antrian pulang dulu. Mereka memasang x-banner yang isinya perkiraan waktu kira-kira nomor sekian akan dipanggil jam berapa begitu. Waktunya juga sepertinya bervariasi antar kantor imigrasi. Temen gue yang bikin di Kanim Jakarta Barat bilang kalau dia pergi jam setengah 7 pagi dan jam 10 pagi prosesnya sudah selesai (which is why gue santai di tanggal 19 April-nya).

Semangat membuat paspor!


NB. OOT dikit, tanggal di post ini sangat pilkada-ish ya.. 19 April pilkada dan ada pemenang dan yang kalah, 9 Mei ada yang dipenjara (secara tidak adil). :(

Monday, February 6, 2017

Jujur Seru

Gue lagi buat laporan magang. Tiba-tiba gue merasa bosen dan capek aja, and I just felt the urge to write (finally) something cheesy.

Dari awal bulan Januari kemarin, gue magang di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tepatnya di Kantor Regional 1. Gue orang yang penakut parah dan sangat tidak inovatif HAHA jadi sejujurnya pengalaman magang di OJK kemarin adalah hal yang sangat berharga bagi gue. Dari dulu gue sudah punya keinginan untuk magang, tapi ketakutan gue itu bahkan menghalangi gue untuk apply. Gue bahkan pernah komentar di status LinkedIn orang tentang hal ini, lol. Sampai hari ini gue masih sangat berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada gue dari seseorang untuk kegiatan magang ini. Big thanks!

Pengumuman diterima magang di OJK ini agak lebih lambat dibandingkan dengan institusi lainnya. Gue sampai khawatir engga diterima bahkan dan mulai pasrah kalau liburan kali ini gue akan kembali menyibukan diri dengan drama Korea (hahaha). Ketika sudah dihubungi bahwa gue diterima, pada tanggal 6 Januari 2017 gue disuruh untuk berkumpul di Gedung D Kompleks Bank Indonesia. Uwaa so happy (?)

Salah satu orang yang gue kenal adalah Iman yang sama-sama dari Akuntansi UI dan temennya Tito. Terima kasih ya, Iman, berkat lo gue nggak takut-takut amat di hari pertama. :') Meskipun kami sudah sampai 30 menit lebih awal, ternyata sudah banyak banget yang datang dan kami tidak kebagian tempat duduk. Nggak lama, seseorang sampai setelah kami. "Halo, magang juga ya? Ini jam 8 kan ya?" "Iya nih." "Oh, kenalin, gue Raditya, kalian dari mana?" "Kita dari UI, Akuntansi." Lalu si Raditya kaget. Ternyata dia Akun UI juga and that's how we met Siwo. (Raditya = Siwo).

Kalo gue ceritain ini bakal jadi panjang banget wkwkw karena gue punya tendensi untuk mengingat segalanya dan nge-retell per hari. So long story short, yang ditugaskan ke Kantor Regional 1 ada 11 orang dan setiap hari menjadi indah karena mereka.

Entah kenapa gue semacam menantikan setiap hari karena ada harapan ketemu mereka dan berkumpul di ruang rapat lantai 13 itu. Somewhere along the way akhirnya kami dipecah ke beberapa bagian dan nggak berkumpul di ruang rapat lagi. Gara-gara itu, kami jadi kangen banget sama si ruang rapat dan memanggil ruang rapat itu 'rumah', our lovely code name! Dan somewhere along the way juga, perlahan-lahan kami semua kembali berkumpul di rumah lagi.

Pengalaman magang ini akan selalu menjadi pengalaman pertama gue yang mengesankan. Akan selalu kangen rumah, yang menyediakan tempat tercozy buat ngobrol gak tau diri yang kadang suka offside volume suaranya. Akan selalu kangen diskusi buat makan apa hari itu. Akan selalu kangen nyobain tempat makanan baru, pergi ke GI di hari Jumat, dan delivery-delivery di akhir periode magang karena udah capek. Akan selalu kangen juga dengan kejutan-kejutan martabak dan cakwe yang suka tiba-tiba hadir di sore hari!

Semoga kalian, teman-teman magang gue sukses selalu, ya! Sukses untuk Bu Ayu, semoga cepet ketemu judul skripsinya, kan nanti magangnya di syariah wakakak. Sukses untuk Firsti di Austria, kita pasti bakal ketemu lagi kokk tamatin Westworld ya! Sukses untuk Siwo, Australian guy yang mau magang di "Australia", ga nyangka situ Hufflepuff hmm. Sukses untuk Iman, jujur lo orang pertama yang samasama tukang *******, jo. Semoga makanan lo senantiasa higienis ya hahaha. Sukses untuk Virgin dengan komunitas BaIm lo, jangan sedih ya Vir karena berpisah dengan spot tercinta lo di depan Bu Tati :( Sukses untuk Dinda, semoga lo ga lupa ya akan magang kali ini wkwkw. Sukses untuk Lia, gue ga benci lo kok karena suara lo yang nyeret-nyeret itu HAHA. Sukses untuk Grace dan Salma, semoga kalian lulus memuaskan tahun ini (soalnya judul TA udh ketemu kan ga kaya Bu Ayu wkwk). Sukses untuk Ghazi, semoga tidak mendapat uang transport ga membuat lo kapok magang.

Terima kasih juga buat Bu Tati dan Pak Dendy, dua orang yang senantiasa mengurusi kami dengan baik di KR1. Juga kepada Pak Pur atas cerita-ceritanya dan untuk Bu Duma serta Bu Sulis atas tugas-tugasnya yang senantiasa menambah ilmu kami.

Dan jujur, akan susah punya pengalaman magang seseru ini lagi. 

Di depan air mancur BI HAHA. Jujur malu fotonya.

Full-team bersama Ghazi

Bersama Bapak KR1