Tuesday, January 5, 2016

Namanya juga orang Indonesia

Meskipun adanya fitur official account di Line terkadang menyebalkan (karena akun-akun galau dan penipu ga jelas), tapi kadang ada yang bagus juga loh! Dan salah satu akun yang bagus menurut gue adalah akun-akun seperti Dokter OnLine dan Human Development. Kemarin ini gue baru saja dapet sebuah bacaan yang menurut gue bagus banget dan penting banget untuk gue share di sini! Selain karena gue ingin membagikannya kepada orang banyak, gue juga pengen supaya dengan adanya tulisan tersebut di blog gue, suatu hari nanti gue akan baca dan ingat lagi, tulisan ini nggak akan hilang begitu aja di antara keping memori gue *eak*.


Mahasiswa Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban
-------------------------------------

Wartawan sekaligus penulis senior Mochtar Lubis pernah menulis buku berjudul "Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban)" yang pertama kali dicetak pada tahun 1977. Isi buku itu berupa pemikiran Mochtar tentang karakter dan sifat manusia Indonesia. Salah satunya Mochtar menulis tentang 12 sifat negatif orang Indonesia: Hipokrit alias munafik, segan dan enggan bertanggungjawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, artistik, watak yang lemah, tidak hemat, lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa, tukang menggerutu atau berani berbicara di belakang, cepat cemburu dan dengki, manusia yang sok dan manusia plagiat.

Tidak jauh beda dengan Mochtar, Antropolog Indonesia Prof Koentjaraningrat juga menulis sifat negatif orang Indonesia, antara lain: sifat meremehkan mutu, suka menerabas, tak percaya diri, tidak berdisiplin murni dan suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh. Ditambah lagi penelitian yang dilakukan oleh dosen Arkeologi UI Dr. Ali Akbar tahun 2011 yang mengungkapkan 10 ciri manusia Indonesia (9 diantaranya adalah ciri negatif), yaitu malas, tidak disiplin, korup, emosional, individualis, suka meniru, rendah diri, boros, percaya takhayul. Dan satu sifat positifnya adalah ramah. (Sahrul Mauludi-ed, 2015: lvi-lviii).

Yang cukup menarik sekaligus menyedihkan, penelitian oleh Dr. Ali Akbar itu ternyata melibatkan 1000 mahasiswa dari 10 perguruan tinggi antara tahun 2000-2010. Artinya dalam kurun waktu 10 tahun pun, tidak ada perubahan yang signifikan tentang sifat, karakter dan ciri orang Indonesia kebanyakan termasuk mahasiswanya secara khusus. Padahal sifat manusia dalam suatu negara sangat menentukan perjalanan pencapaian tujuan suatu negara. Misalnya seperti perbandingan yang dilakukan oleh Huntington kepada Korea Selatan dan Ghana yang sekarang dari segi ekonominya, Ghana tertinggal sangat jauh. Padahal 30 tahun sebelumnya, Korsel dan Ghana berangkat dari kondisi perekonomian negara yang sama. (ibid, lxxiii). Kemajuan Korsel dipicu oleh sifat manusia Korsel yang menghargai hidup hemat, kerja keras, suka investasi, berpendidikan dan disiplin.

Hal di atas hanya ingin menggambarkan betapa kualitas manusia suatu bangsa adalah sangat penting guna menentukan kesuksesan dan kemajuan suatu negara. Kualitas manusia itu hanya dapat dicapai dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang berkualitas baik pula yang kemudian bertransformasi menjadi sifat manusia itu sendiri. Karena menyangkut kemajuan sebuah negara, maka seharusnya kebiasaan itu adalah kebiasaan bersama (collective behavior), agar dampaknya dapat dirasakan juga dalam kebersamaan.

Dalam konteks Indonesia, dorongan 'Revolusi Mental' yang dicanangkan Presiden Jokowi tentu menggambarkan bahwa Presiden juga menyadari betapa pentingnya kualitas manusia Indonesia yang unggul untuk mencapai Indonesia yang hebat di berbagai bidang. Mentalitas manusia Indonesia seperti yang disebutkan Prof Koentjaraningrat, Mochtar Lubis dan Ali Akbar itulah yang harus direvolusi. Presiden tentu menyadari bahwa kelemahan Indonesia yang paling utama adalah manusianya yang bermental 'perusak' bukan yang membantu kemajuan dan kejayaan Indonesia. Untuk itu, sekali lagi kualitas manusia Indonesia yang dapat dilihat jelas dari sifat dan cirinya itulah yang akan menentukan keberlanjutan Indonesia.

 
***
Dalam sebuah kegiatan internasional, setelah sesi konferensi selesai, semua peserta yang datang dari berbagai negara menuju tempat makan malam. Tiba-tiba, saya dihampiri seorang mahasiswi dari Inggris yang berbicara kepada saya dengan pelan, "tadi saat konferensi temanmu itu tertidur pulas, saat ada pengumuman makan malam, dia berbaris di urutan paling depan". Saya tahu, kalau kalimat itu murni sindirannya. Sederhananya, dia mau mengatakan kalau urusan perut, teman saya yang orang Indonesia itu nomor satu, tapi saat semua peserta antusias dalam konferensi, dia malah tidur seperti tidak peduli. Saya tidak membalas pernyataan pedasnya itu.

Pengalaman itu cukup baik saya ingat, sampai tulisan ini dibuat. Setidaknya itu memperlihatkan dalam contoh yang sangat sederhana kondisi pendidikan tinggi yang ada saat ini; memperlihatkan sifat dan kebiasaan kebanyakan mahasiswa: mau enaknya saja, tidak mau kerja keras, bertingkah laku sok, mudah meremehkan banyak hal, tidak bertanggung jawab. Padahal, mahasiswa-mahasiswa itu yang nantinya akan memegang kendali Indonesia. Sayang, semakin ke sini, kelihatanya Indonesia makin jauh sampai di pelabuhan yang didambakan yaitu kejayaan dan kemajuan.

Menjadi mahasiswa di tanah Indonesia artinya memiliki kewajiban penuh dalam keikutsertaan dalam kemajuan negara ini, siap untuk ikut dalam setiap usaha pemecahan persoalan yang dihadapi, mau gotong royong dan turun tangan membantu masyarakat yang berkesusahaan, menjawab tantangan global lewat bidang keilmuan yang dipelajari, mengabdi lewat penelitian, dan sebagainya. Semua itu harus dilakukan dalam kesatuan tujuan yakni kemakmuran, kejayaan dan kesuksesan Indonesia.


***
Maka untuk mengubah kondisi bangsa ini, kita juga harus mengubah sifat dan ciri kita sebagai manusia Indonesia. Kalau demikian, dalam konteks kampus, mahasiswa Indonesia perlu mengubah atau menegasi sifat hipokrit, tidak peduli terhadap mutu, tidak bertanggung jawab, boros, suka menggerutu, dengki, suka plagiat, tidak disiplin, tidak percaya pada kemampuan diri dan seterusnya yang negatif. Sebab dengan perubahan atas sifat-sifat itu, diharapkan terbentuk mentalitas mahasiswa Indonesia yang konstruktif bagi pembangunan bangsa.

Kelak dalam masa perubahan itu, Indonesia bisa yakin kalau secepatnya Indonesia bisa bertransformasi menjadi salah satu negara dengan perekonomian yang kuat, negara dengan sistem demokrasi yang sehat, negara dengan jaminan penegakan hukum yang tegas, bersih dan adil serta negara yang disegani oleh bangsa lain dalam pergaulan internasional.

Lagi-lagi, mengubah mentalitas mahasiswa Indonesia yang tidak baik ke mentalitas yang sesungguhnya diharapkan bersama, membutuhkan relasi dari semua sisi yang berkaitan, mulai dari pemerintah, kampus, dosen, kurikulum, budaya ilmiah, fasilitas dan yang paling utama adalah kemauan yang kuat dari diri sendiri. Sekali lagi kemauan dari dalam diri sendiri masing-masing, disertai usaha-usaha konkret.

Waktu terus berjalan, dunia semakin cepat berlari. Negara-negara di dunia ini semakin memperlihatkan kemauan dan kesiapan untuk bersaing. Globalisasi semakin menuntut kita untuk lebih sigap. Yang tidak mampu beradaptasi dengan kondisi ini, tentu akan tertinggal.

Kini, kita hanya perlu mengubah mentalitas perusak bangsa ini yang berkembang dalam diri kita karena berbagai macam godaan. Mahasiswa Indonesia, termasuk saya, perlu menyadari dan melakukannya.

Akhirnya, mahasiswa Indonesia adalah manusia Indonesia yang bermental konstruktif bagi kemajuan dan kesuksean Indonesia di masa sekarang dan mendatang. Mereka-mereka yang hidup dalam optimisme akan kemajuan Indonesia dibalut dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang kemudian menunjukkan sifat dan karakternya sebagai manusia Indonesia yang sejati. Dengan itu kita bisa mempertanggungjawabkan kemahasiswaan itu kepada bangsa ini.


Salam,
Richard Sianturi
Mahasiswa FH Unpar, Bandung

---

Menurut gue ini adalah tulisan yang bagus banget! Gue jarang banget suka sama tulisan kayak gitu, karena gue orangnya ga suka yang ribet-ribet hahaha dan tulisan yang ribet dan ga konkret (iya w emang anak novel banget) memusingkan gue. Tapi paragraf pertama tulisan ini bikin gue tertarik untuk baca lebih lanjut.

Banyak banget sifat orang Indonesia yang nyebelin banget dan gue kaget kalau ternyata sudah ada buku yang membahas hal itu bahkan sudah ada penelitian dari antropolog terkemuka akan hal itu! Ini seperti ungkapan "namanya juga orang Indonesia" tiba-tiba punya bukti akademis yang kuat banget, hahaha! Satu hal yang gue kesel adalah orang-orang yang menghina-hina pemerintah korupsi padahal mereka sendiri sering korupsi kecil-kecilan. Aneh banget kan ya.. Oh sama untuk hal rendah diri. Gue heran banget kenapa orang-orang menganggap berlebihan soal MEA. Well, mungkin gue yang belum melihat dunia secara lebih luas sih. Tapi seperti kata Prof. Sri Edi Swasono (thanks to MPKT haha), harusnya MEA tidak dilihat sebagai sesuatu yang kompetitif tapi kooperatif. Gue percaya pemerintah tetap akan bisa membatasi outsourcing dari luar negeri, dan menurut gue MEA juga berarti bahwa tenaga kerja kita bisa mencari pekerjaan di luar negeri dengan lebih mudah kan? Jadi tidak usah takut! Lagipula lapangan pekerjaan yang kecil-kecil seperti petani, tukang ojek, pedagang toko kelontong, dll engga akan tiba-tiba diisi sama bule kok..

Kembali ke artikel di atas. Hal yang membuat gue tertarik adalah selama ini gue sendiri sering banget memikirkan hal itu. Menurut gue masih banyak banget sifat negatif yang menempel di diri kita semua, orang Indonesia, dan dalam kasus ini khususnya para mahasiswa Indonesia. Gak usah menyangkal juga ya, bahkan di diri gue sendiri ada banyak sifat buruk seperti itu. Mungkin banget kalo sifat-sifat kaya gitu yang menghambar Indonesia untuk bisa menjadi salah satu negara maju. Perlu ada revolusi mental yang gue sendiri juga sebenernya bingung sih, dengan cara apa?? Beberapa hal udah terlalu mendarah daging.

Mungkin hal yang paling mungkin untuk dilakukan adalah dengan cara kita mengubah diri kita sendiri. Pernah ada cerita, ada seseorang yang berpikir untuk mau mengubah dunia. Beberapa tahun kemudian, dia sadar kalau mengubah dunia itu mungkin ga mungkin. Akhirnya dia menurunkan standardnya menjadi mengubah negaranya saja. Tahun berlalu, ternyata itu juga sulit. Akhirnya dia memutuskan untuk mengubah kotanya saja. Masih dirasa mustahil dan setelah beberapa tahun ga ada perkembangan, ia berpikir untuk mengubah keluarganya saja. Kemudian di hari tua menjelang kematiannya, ia sadar bahwa seharusnya ia mengubah dirinya dulu saja. Dengan mengubah dirinya mungkin dia bisa mengubah keluarganya, yang kemudian memungkinkan dia untuk mengubah kota, negara, dan kemudian dunia.

Gue ga buat resolusi 2016 (hahaha), tapi mungkin artikel ini bisa membuat gue memulai bikin resolusi eaa. Semoga di tahun 2016 ini gue bisa lebih menjadi pribadi yang tidak munafik, bertanggung jawab, tepat waktu, bekerja keras, tidak suka berbicara di belakang orang lain, hemat (say no to hedon..), disiplin, dan lain-lain.

2 comments:

  1. Nice one! Kritik dari artikel nya sangat menusuk dan membuat gw sadar bahwa gw harus berubah di tahun baru ini. Semoga resolusinya bisa terwujud ya! (Finally a comment in Bahasa Indonesia)

    ReplyDelete