Monday, February 6, 2017

Jujur Seru

Gue lagi buat laporan magang. Tiba-tiba gue merasa bosen dan capek aja, and I just felt the urge to write (finally) something cheesy.

Dari awal bulan Januari kemarin, gue magang di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tepatnya di Kantor Regional 1. Gue orang yang penakut parah dan sangat tidak inovatif HAHA jadi sejujurnya pengalaman magang di OJK kemarin adalah hal yang sangat berharga bagi gue. Dari dulu gue sudah punya keinginan untuk magang, tapi ketakutan gue itu bahkan menghalangi gue untuk apply. Gue bahkan pernah komentar di status LinkedIn orang tentang hal ini, lol. Sampai hari ini gue masih sangat berterima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada gue dari seseorang untuk kegiatan magang ini. Big thanks!

Pengumuman diterima magang di OJK ini agak lebih lambat dibandingkan dengan institusi lainnya. Gue sampai khawatir engga diterima bahkan dan mulai pasrah kalau liburan kali ini gue akan kembali menyibukan diri dengan drama Korea (hahaha). Ketika sudah dihubungi bahwa gue diterima, pada tanggal 6 Januari 2017 gue disuruh untuk berkumpul di Gedung D Kompleks Bank Indonesia. Uwaa so happy (?)

Salah satu orang yang gue kenal adalah Iman yang sama-sama dari Akuntansi UI dan temennya Tito. Terima kasih ya, Iman, berkat lo gue nggak takut-takut amat di hari pertama. :') Meskipun kami sudah sampai 30 menit lebih awal, ternyata sudah banyak banget yang datang dan kami tidak kebagian tempat duduk. Nggak lama, seseorang sampai setelah kami. "Halo, magang juga ya? Ini jam 8 kan ya?" "Iya nih." "Oh, kenalin, gue Raditya, kalian dari mana?" "Kita dari UI, Akuntansi." Lalu si Raditya kaget. Ternyata dia Akun UI juga and that's how we met Siwo. (Raditya = Siwo).

Kalo gue ceritain ini bakal jadi panjang banget wkwkw karena gue punya tendensi untuk mengingat segalanya dan nge-retell per hari. So long story short, yang ditugaskan ke Kantor Regional 1 ada 11 orang dan setiap hari menjadi indah karena mereka.

Entah kenapa gue semacam menantikan setiap hari karena ada harapan ketemu mereka dan berkumpul di ruang rapat lantai 13 itu. Somewhere along the way akhirnya kami dipecah ke beberapa bagian dan nggak berkumpul di ruang rapat lagi. Gara-gara itu, kami jadi kangen banget sama si ruang rapat dan memanggil ruang rapat itu 'rumah', our lovely code name! Dan somewhere along the way juga, perlahan-lahan kami semua kembali berkumpul di rumah lagi.

Pengalaman magang ini akan selalu menjadi pengalaman pertama gue yang mengesankan. Akan selalu kangen rumah, yang menyediakan tempat tercozy buat ngobrol gak tau diri yang kadang suka offside volume suaranya. Akan selalu kangen diskusi buat makan apa hari itu. Akan selalu kangen nyobain tempat makanan baru, pergi ke GI di hari Jumat, dan delivery-delivery di akhir periode magang karena udah capek. Akan selalu kangen juga dengan kejutan-kejutan martabak dan cakwe yang suka tiba-tiba hadir di sore hari!

Semoga kalian, teman-teman magang gue sukses selalu, ya! Sukses untuk Bu Ayu, semoga cepet ketemu judul skripsinya, kan nanti magangnya di syariah wakakak. Sukses untuk Firsti di Austria, kita pasti bakal ketemu lagi kokk tamatin Westworld ya! Sukses untuk Siwo, Australian guy yang mau magang di "Australia", ga nyangka situ Hufflepuff hmm. Sukses untuk Iman, jujur lo orang pertama yang samasama tukang *******, jo. Semoga makanan lo senantiasa higienis ya hahaha. Sukses untuk Virgin dengan komunitas BaIm lo, jangan sedih ya Vir karena berpisah dengan spot tercinta lo di depan Bu Tati :( Sukses untuk Dinda, semoga lo ga lupa ya akan magang kali ini wkwkw. Sukses untuk Lia, gue ga benci lo kok karena suara lo yang nyeret-nyeret itu HAHA. Sukses untuk Grace dan Salma, semoga kalian lulus memuaskan tahun ini (soalnya judul TA udh ketemu kan ga kaya Bu Ayu wkwk). Sukses untuk Ghazi, semoga tidak mendapat uang transport ga membuat lo kapok magang.

Terima kasih juga buat Bu Tati dan Pak Dendy, dua orang yang senantiasa mengurusi kami dengan baik di KR1. Juga kepada Pak Pur atas cerita-ceritanya dan untuk Bu Duma serta Bu Sulis atas tugas-tugasnya yang senantiasa menambah ilmu kami.

Dan jujur, akan susah punya pengalaman magang seseru ini lagi. 

Di depan air mancur BI HAHA. Jujur malu fotonya.

Full-team bersama Ghazi

Bersama Bapak KR1


Thursday, July 21, 2016

The greatest journey is yet to come

I've spent minutes on deciding whether I should capitalize the pronoun or not for the title. After some searches on Google, I've decided that the article wasn't making any sense to me so I'll stay with no capitalization at all, lol.

There are soooo many things that I haven't been sharing on this blog! So to get started, I'll go with my last semester. My last semester in college, that would be my second semester, went quite well, I'd say. I'm not even regretting taking Catholic class because there are things which matter more than GPA. And getting a less-than-A-minus is seriously worth it compared with the closeness with KUKSA. Hahahahahahaha.

Last semester was especially a hustle-bustle for me. I've got several events due that semester, two biddings which were very time-and-energy consuming, and a new organization to adjust to. The only thing that made me survive was probably the lack of tutoring classes, I got two less tutoring classes than the first semester. So, five additional free hours!

80% guess of me in PDD would be right
After participating in numerous events as the committee (most of them in Publication, Documentation, and Design division) I come to realize that your major in college is not your limitation. I had always been afraid since junior high that I wouldn't be qualified enough, that when I go to college everybody would have mastered the study materials, that once you've decided to master a major then there would be nothing else to do. However, I managed to keep doing my thing by participating in these committees. I can even say that my Photoshop skills have progressed so much in college (since I technically did not use Photoshop at all in high school). Not all of them were satisfying, but I got so many experiences and friends (calling them 'links' is so much degrading, I think) that I wouldn't have expected I would. I also remember that I loved to write so much and I even got to write an article here!

My commuting skills also have developed so much. I'm being more flexible and places are more reachable for me, huahaha. Much thanks to the emerging of transportation mobile-app and Google maps this year. The year 2016 sure brings me a lot. Next month, for the first time ever in my life, I will be taking inter-cities train!!! I'll go to Malang with some of my friends, the farthest place to go without parents ever for me! So, I'll make sure to bring the updates of my (surely will be) amazing trip here.

Lately I've been talking a lot about my college life on my blog. It's all because people's blogs about college really inspired me and helped me that much back then and I'm hoping to bring the same feelings to for other people. So, I'm happy to say that I'm glad that I'll be meeting some of these people in the new year. I feel like my voice can really reach people. My utmost happiness would be toward this one friend who really struggled with me together through those sleepless nights studying stuff online. Congrats, Angga!

Tuesday, March 22, 2016

Back

It's not that I'm not being grateful with my current life. It's a great life I've been living! I think I'm walking on the right path, and even if it isn't, there are so many great friends surrounding me. Friends that I think I don't even deserve.

Yet, sometimes you want to go back. Go back to those happy times which has caused a great impact to your life.

Not that those times were happier or my current life is sadder.

I just miss those times so bad I want go back.

Sunday, March 6, 2016

Bapmokja

Two weeks ago I've finally finished Reply 1988. Yesss, it's another K-drama hahaha please bear with me.

I'm not gonna post a long post about it because lol it takes a lot of time. Besides, this drama is extraordinary since one episode took 1.5 to 2 hours and it has 20 episodes in total. That's 30 hours traded off for watching this, lol. Btw, please find the summary of this drama by yourself because I'm too lazy for it haha.

After a hard struggle since my schedule was so mesmerizing weeks ago, finally I managed to start a proper college life by finishing the drama. No more bounds attached! (?)

One thing that stands out about this drama is that it really improved my Korean languange to... additional 4 Korean phrases! Haha damn so pathetic but whatever. Also, my friend said that this drama really makes you fall in love with the characters, indeed it does. I so love the characters, not only the main characters but also the supporting characters. Please note that this drama tells you about 5 families so there are a lot of characters yet I still found myself attached to each of them.

I cried a lot because the storylines were so heartwarming, it was sad but also told you something you (at least, I) can relate with everyday's life. I felt happy when the characters felt happy, I felt sad when they did. All because those things that makes them emotional actually happened at some points in my own life. And it didn't even matter to me who gets the main girl because I love all of the guys! This drama is so nostalgic. Even if I was born in the 90s, I can tell that this drama really brings back memories to those who feel 1988. I also could finally see how pager works after years reading about pager in Detective Conan without knowing :') When the drama ends, I felt so sad because that scene really pictured to me reasons why I super-hate farewell!!!!!!!

I don't quite know about myself but there are things that I'm sure of about me, one of them is that I hate conflicts (other than farewell). I love Pinocchio but when I rewatched it, I skipped the part when the bad guys were so bad that I'm overwhelmed with that uneasy tense (?) But guys, after some episodes I realize that... THIS DRAMA HAS NO ANTAGONISTS! No bad guys! :') The problem sources for the characters are purely external. Even if there are bad guys, trust me that the whole drama isn't talking about the bad guys. Problems come and go like it does in real life. I also didn't get that uneasy feeling!

The title from this post is actually on of the four phrases I learned! The five of our characters were watching TV and mothers were yelling, "bapmokja!" that very scene started and ended my very pleasant experience with Reply. It started with a yawn but ended with tearzz (and some heavy-stalking on the actors' instagram accounts).

I'm sorry for any grammatical error but whatever. Annyeong!

Friday, January 22, 2016

Valencia Li 2.0

Gue baru aja liburan keliling Jawa Tengah (?) Yhaa highlight-nya adalah gue melihat banyak hal baru di kota-kota besar selain Jakarta dan Bandung (wk) yang agak bikin gue kaget sih. Ternyata Jogja dan Semarang oke juga untuk ditinggalin. Ternyata makanan di Jogja beneran murah. Ternyata kayanya Jogja enak untuk dieksplor dengan jalan kaki. Dan lain-lain.
It shouldn't be this dark, instead it was so friggin hot and sunny.

But one thing worth noting, gue juga ketemu lagi dengan Valen! Mungkin kalian bisa baca tentang Valen di sini. Valen tetap pintar, tetap kurus, tetap susah makan tapi udah jauh mendingan (meskipun mendingan tapi emang makanannya lebih bisa dimakan sih, emang China is not a place for edible food dah), dan ngomongnya tetap pintar hahaha. Dia makin jago ngomong Mandarin sekarang which made me kinda feel like a loser. (?)

#YearofTransformation #LHOSPA HAHAHA *inside joke sorry*

Hal yang gue perhatikan sekarang adalah dia dewasa banget.. Ternyata dia ranking tiga di kelasnya dan itu adalah hasil belajar sendiri, wow.. Gue kelas 3 SD masih belom bisa belajar sendiri gils. Dia bilang ke mamanya, "Mama ga usah risau, Valen bisa belajar sendiri." Damn I cried a little......... *lebay* (((btw, RISAU)))

OH dan Valen suka banget sekolah! Gila gue sangat respect sama ini anak. Jadi ceritanya di hari terakhir, kita sampai di Jakarta jam 12 malam dan karena rumahnya ada di Jakarta Barat, agak ga memungkinkan kalau dia pulang ke rumahnya dari Buaran ke Jakbar, karena itu jauh banget dan papanya gatau jalan. Tapi ternyata di luar dugaan, dia sempet memohon-mohon ke mamanya supaya sekolah aja... "Maaa pokoknya besok aku gamau lolos!!!" HAHAHAHA saking dia gapernah bolos, dia jadi gatau kata-kata itu dan salah sebut jadi 'lolos' duh ngakak.. Dia emang bilang sih kalo dia lebih jago Mandarin daripada Inggris, tapi gue gatau bahkan Bahasa Indonesia dia juga kalah bagus dibanding Mandarin hahaha. Dia takut banget ngasih alasan ke gurunya dan gamau bilang kalo dia belom pulang jalan-jalan, maunya bilang dia sakit panas wkwk kids be kids.

But another sad thing is, at the end of the trip she said that she didn't have friends at school... She only has a boy friend (not lover!) and she said that girls at her school are so annoying hahahahahahahahhaha so like myself when I was her age. But I still had girl friends back then.. :( She is a class leader and I didn't know that being a class leader won't bring you any friends hiks (she did say that some friends objected her being the leader). Well, she is a much more mature kid for her age so this may be the reason. You don't need them anyway Valen!!!!!!!! And you'll have a bright future ahead, yeah! (eh tp doi bilang dia gamau kerja sih kalo udah gede maunya santai aja duh gmn yha, sukses cari suami kaya deh ya!! wakak)
SWAG! Don't care bout the photobomb, that annoying pink umbrella which Jesslyn ironically loves so much, or that cropped out stupa
See you next time, my little counterpart!!! Hahaha

Friday, January 15, 2016

January 14th 2016

Today is so something.

Minggu-minggu ini gue sibuk banget dan mungkin ini liburan pertama yang paling ga gabut, menurut gue, sih.. Biarpun awal-awal liburan gue juga bingung mau ngapain, ternyata tugas kepanitiaan yang belom kelar itu ngaruh banget, ya. Belom lagi ketemuan temen sana-sini mulai dari setiap jenjang pendidikan hahaha, ada aja acara mainnya. Minggu ini, udah tiga kali gue pergi dan jadwal gue (ea jadwal) hari Kamis ini adalah door-to-door mencari sponsor untuk Indonesia Accounting Fair 17. *prok prok*

Awalnya gue mager mager engga sih sebenernya. Gue males sebenernya keluar rumah HAHA dan capek bangun pagi. Tapi gue mikir-mikir lagi kalau kesempatan bisa ikut door-to-door ini mungkin tidak datang dua kali dan akhir-akhir ini gue lagi suka nyari pengalaman baru sih, hehehe. Singkat cerita, gue sampai di meeting point jam setengah 9 pagi dengan nebeng Kak Nadya. Ternyata beberapa rombongan ada yang belum datang sehingga semula acara yang harusnya dimulai jam 9 pagi jadi agak telat. Gue dan beberapa orang lainnya sempet mampir dulu di PP (which is so not college students' league :'D) Ketika kita balik ke meeting point juga akhirnya mereka nungguin kita lagi, akhirnya rombongan baru mulai berangkat jam 10 pagi.

Foto ala-ala sebelum kegiatan mulai,

Gedung pertama yang gue datangin adalah Wisma GKBI. Meskipun terlihat seperti gedung biasa, tapi ternyata penjagaannya ketat uga.. Parkirnya cuma buat mobil bersticker dan untuk mobil ga bersticker harus dicatet dulu gitu sama satpamnya. Hmm dan basement tingkat pertama itu mobil-mobilnya agak bikin jiper semua yaa.. Baru di tingkat dua ke bawah udah mulai selevel gt deh lol.

Hmm oke jadi sebenernya hari ini gue bego banget karena gak bawa kartu identitas apapun, gue lupa banget kalo di gedung perkantoran, kita mesti menukar kartu identitas dengan kartu pengunjung (kaya di sitkom OB itu loh guysss hahaha). Gue akhirnya minjem SIM-nya Vero dan ternyata dibolehin masuk. Mungkin ini masukan ya untuk para penjaga pintunya agar memerhatikan foto di kartu identitas (?) Tapi seriusan sih gue deg-degan banget pas ngasih kartunya gitu wakak.

Begitu urusan kita selesai di gedung tersebut, "Eh, ternyata kerja ginian boring banget ya, sepi banget gitu" "Mungkin ini karena bukan di ruang kantornya kali kak" "Hmm iya mungkin" that was a glimpse of our conversation while walking to the car.

Ketika di mobil dan semua orang mulai nyalain HP, jengjeng.. Ternyata di grup door-to-door udah pada rame dari sejam lalu kalo ada pengeboman di Sarinah. Tadinya malah masih dibecandain tapi ternyata beneran. Gue awalnya masih santai-santai aja gitu kan, ya agak takut sih karena bomnya di Sarinah dan gue di Sudirman. I've never been this close to the crime scene. Udah mulai ada intruksi untuk kelompok Thamrin mau gak mau cancel aja karena deket banget sama Sarinah. Kemudian akhirnya kita mendengarkan radio di 90.0 FM dan masih ada siaran gitu mengenai kejadian tadi. Gue udah mulai panik nih, gila ini kerasa serius banget gitu loh jir..

Kemudian dibilangin untuk tim daerah Sudirman terserah kita aja maunya gimana. Karena tanggung akhirnya kita memutuskan untuk lanjut lagi ke Chase Plaza (meskipun ini nama gedungnya Amerika banget sih hahah) dan pengecekan keamanan mendadak jadi ketat banget di sana. Jauh lebih ketat dibanding di Wisma GKBI bahkan. Begitu sampai di lobby Chase Plaza, alas, ternyata dua kantornya udah pindah semua.. Sumpah sial abis. Kita akhirnya memutuskan untuk ngejar lagi aja ke kantornya yang baru. Begitu sampai di mobil, semua berita broadcast bermunculan di HP :'''' semua langsung pada takut dan akhirnya kita ga berani untuk keluar parkiran. Banyak banget berita yang bilang kalo mending jangan keluar gedung karena di jalanan katanya ada pelaku yang kabur dan masih bawa AK47 now that is so fucking creepy :((( Gue serius takut beneran dan ngerasa insecure banget jadinya. AK47 itu mah senapan yang ada di Point Blank bukannya, kenapa jadi ada orang yang bawa-bawa beneran huee amsyong abis. Belom lagi ada berita kalo Palmerah, Kuningan, dan Cikini juga ada ancaman. Lol jadi gue ga bisa ke mana-mana dong????

Gue lalu pusing pulangnya mau gimana. Mau naik busway juga gue takut kan dan rombongan yang ke arah Kalimalang kabarnya udah mau balik duluan gitu. Tapi untungnya mereka akhirnya menyusul gue ke Chase Plaza dan itu gue udah membayangkan bahaya banget sih pas di jalannya jadi gue agak terharu wkwk. Akhirnya, jadi ada tiga rombongan yang ngumpul di Chase Plaza sampai jam 2 siang. Kita nunggu di food court dan sesungguhnya gue bingung sih kenapa orang-orang kantoran ini ga sepanik kita dan mereka masih semangat makan siang. Mendadak hari-hari orang kantoran jadi ga seboring itu buat gue, mungkin aja mereka lebih terbiasa sama situasi-situasi kampret kayak gini ya :'D

Akhirnya, perjalanan pulang yang tadinya agak menegangkan ketika dibicarakan ternyata berlangsung aman-aman aja. Jalanan juga tumben banget lancar parah dan gue sampai di rumah dengan selamat thanks to kak Raijol!!

---

Hari ini, untuk pertama kalinya gue merasakan langsung gimana rasanya diteror, gils. Ternyata ga seseru yang keliatan di TV because the fear is so damn real. Gue bener-bener menggigil gitu gara-gara ketakutan hahaha. Karena abis nonton drama Korea, bahkan gue sempet mikir is this the right time to call my Mom and say sorry... *sobs*

Gue sempet mikir sih, selain karena sirine yang berdengung-dengung di luar, sumber utama dari kepanikan kita adalah broadcast-broadcast yang ada. Mungkin kalo gue ga pegang smartphone, gue gak akan sepanik ini kali yaa..

Tapi kembali lagi situasi mungkin memaksa gue untuk merasa over waspada juga. Banyak banget berita yang bilang kalo lokasi kayak Kuningan, Cikini, Palmerah, Alam Sutera, dll akan jadi target selanjutnya. Katanya ada 40 titik bom sudah dipasang. Bahkan, ada yang ngelist mall-mall target teroris dan broadcast itu ngelist semua mall di Jakarta :(( That time, I can't help but try to believe to all these messages bahkan yang paling lebay kayak 40 titik bom itu (but not the last one though, lol, yakali masa Margo City diteror juga jir). Seengganya akan lebih aman kalo lo minimal percaya dulu dengan diem di tempat lo berada gitu kan, daripada lo udah turun ke jalan ehh gataunya pesan yang lo percaya fix banget hoax itu ternyata beneran. Die abis.

Lalu, hari ini gue jadi sadar kalo orang yang nyebarin hoax dari awal itu nyebelin banget. Tapi orang yang malah becandain kejadian kaya tadi dan meremehkan semua hoax itu juga nyebelin.. Kalo beneran gimana.. You weren't even there. You'll never walk on their shoes lol. Ada juga yang bilang kalo ini mungkin pengalihan isu (jadi inget Pinocchio!?), tapi ternyata jam 1 siang ada berita kalo Freeport udah nawarin harga saham gitu sih. Kemudian, Gojek dan Grabtaxi menawarkan ongkos perjalanan gratis untuk tujuan evakuasi! Sumpah, ini mulia banget sih. Tapi gue mikir, emangnya bakal ada pengemudinya.. Apa mereka ga takut juga... (terus siangnya gue cek emang kosong sih ga ada gojek di mana-mana hahaha)

Di rumah, gue baru nonton video ketika ledakan dan demi apapun itu serem banget. Gue yang denger siaran langsung dari radio dan berjarak kira-kira beberapa kilometer dari lokasi kejadian aja udah takut banget. Gimana coba sama orang-orang yang kantornya ada di sekitaran lokasi kejadian?! Ngeri banget sih kayanya menyaksikan kejadian kayak gitu, di video amatir orang satu ruangannya udah pada panik banget ga berani liat juga, gue jadi mereka mungkin bakal trauma banget. Temen-temen di grup door-to-door sponsor jadi berandai-andai. Coba tadi ga ada yang telat, coba tadi gue ga beli makanan dulu di PP, coba tadi acara mulai on time, mungkin rombongan yang ke Thamrin bakal kejebak lebih parah di sana. Ada setiap rencana Tuhan di balik setiap kejadian, teman-teman!

Ini pertama kalinya gue ga bisa bodo amat sama suatu kejadian dan pertama kalinya gue merasa diteror. Kalo biasanya gue cuma sekedar liat TV terus oh yaudah, mulai sekarang gue gak bisa kaya gitu lagi, deh. There were actual people who are affected by that so I should show more empathy instead of just minding what happens in my world. Act of terrorism is so inhuman, I don't really care about our economic condition but knowing that this hurt people and take people's lives, it's SO intolerable.

---

UPDATE.
1. Denger-denger ternyata yang nyebarin hoax itu salah satu stasiun TV ya... Duh, memang beda..
2. Gue emang suka banget baca Quora kan ceritanya. Terus tadi gue nemuin ini dan HAHAH ngakak, setelah selama ini gue selalu baca pertanyaan yang berhubungan dengan Amerika dll, ada juga lohh yang nanyain Jakarta!
   Dan ngebaca itu gue jadi ngakak juga sih. Ternyata emang serangan kemarin itu agak fail ya setelah gue pikir-pikir. Tapi gue harus bersyukur banget sih karena fail :')

Tuesday, January 5, 2016

Namanya juga orang Indonesia

Meskipun adanya fitur official account di Line terkadang menyebalkan (karena akun-akun galau dan penipu ga jelas), tapi kadang ada yang bagus juga loh! Dan salah satu akun yang bagus menurut gue adalah akun-akun seperti Dokter OnLine dan Human Development. Kemarin ini gue baru saja dapet sebuah bacaan yang menurut gue bagus banget dan penting banget untuk gue share di sini! Selain karena gue ingin membagikannya kepada orang banyak, gue juga pengen supaya dengan adanya tulisan tersebut di blog gue, suatu hari nanti gue akan baca dan ingat lagi, tulisan ini nggak akan hilang begitu aja di antara keping memori gue *eak*.


Mahasiswa Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban
-------------------------------------

Wartawan sekaligus penulis senior Mochtar Lubis pernah menulis buku berjudul "Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban)" yang pertama kali dicetak pada tahun 1977. Isi buku itu berupa pemikiran Mochtar tentang karakter dan sifat manusia Indonesia. Salah satunya Mochtar menulis tentang 12 sifat negatif orang Indonesia: Hipokrit alias munafik, segan dan enggan bertanggungjawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, artistik, watak yang lemah, tidak hemat, lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa, tukang menggerutu atau berani berbicara di belakang, cepat cemburu dan dengki, manusia yang sok dan manusia plagiat.

Tidak jauh beda dengan Mochtar, Antropolog Indonesia Prof Koentjaraningrat juga menulis sifat negatif orang Indonesia, antara lain: sifat meremehkan mutu, suka menerabas, tak percaya diri, tidak berdisiplin murni dan suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh. Ditambah lagi penelitian yang dilakukan oleh dosen Arkeologi UI Dr. Ali Akbar tahun 2011 yang mengungkapkan 10 ciri manusia Indonesia (9 diantaranya adalah ciri negatif), yaitu malas, tidak disiplin, korup, emosional, individualis, suka meniru, rendah diri, boros, percaya takhayul. Dan satu sifat positifnya adalah ramah. (Sahrul Mauludi-ed, 2015: lvi-lviii).

Yang cukup menarik sekaligus menyedihkan, penelitian oleh Dr. Ali Akbar itu ternyata melibatkan 1000 mahasiswa dari 10 perguruan tinggi antara tahun 2000-2010. Artinya dalam kurun waktu 10 tahun pun, tidak ada perubahan yang signifikan tentang sifat, karakter dan ciri orang Indonesia kebanyakan termasuk mahasiswanya secara khusus. Padahal sifat manusia dalam suatu negara sangat menentukan perjalanan pencapaian tujuan suatu negara. Misalnya seperti perbandingan yang dilakukan oleh Huntington kepada Korea Selatan dan Ghana yang sekarang dari segi ekonominya, Ghana tertinggal sangat jauh. Padahal 30 tahun sebelumnya, Korsel dan Ghana berangkat dari kondisi perekonomian negara yang sama. (ibid, lxxiii). Kemajuan Korsel dipicu oleh sifat manusia Korsel yang menghargai hidup hemat, kerja keras, suka investasi, berpendidikan dan disiplin.

Hal di atas hanya ingin menggambarkan betapa kualitas manusia suatu bangsa adalah sangat penting guna menentukan kesuksesan dan kemajuan suatu negara. Kualitas manusia itu hanya dapat dicapai dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang berkualitas baik pula yang kemudian bertransformasi menjadi sifat manusia itu sendiri. Karena menyangkut kemajuan sebuah negara, maka seharusnya kebiasaan itu adalah kebiasaan bersama (collective behavior), agar dampaknya dapat dirasakan juga dalam kebersamaan.

Dalam konteks Indonesia, dorongan 'Revolusi Mental' yang dicanangkan Presiden Jokowi tentu menggambarkan bahwa Presiden juga menyadari betapa pentingnya kualitas manusia Indonesia yang unggul untuk mencapai Indonesia yang hebat di berbagai bidang. Mentalitas manusia Indonesia seperti yang disebutkan Prof Koentjaraningrat, Mochtar Lubis dan Ali Akbar itulah yang harus direvolusi. Presiden tentu menyadari bahwa kelemahan Indonesia yang paling utama adalah manusianya yang bermental 'perusak' bukan yang membantu kemajuan dan kejayaan Indonesia. Untuk itu, sekali lagi kualitas manusia Indonesia yang dapat dilihat jelas dari sifat dan cirinya itulah yang akan menentukan keberlanjutan Indonesia.

 
***
Dalam sebuah kegiatan internasional, setelah sesi konferensi selesai, semua peserta yang datang dari berbagai negara menuju tempat makan malam. Tiba-tiba, saya dihampiri seorang mahasiswi dari Inggris yang berbicara kepada saya dengan pelan, "tadi saat konferensi temanmu itu tertidur pulas, saat ada pengumuman makan malam, dia berbaris di urutan paling depan". Saya tahu, kalau kalimat itu murni sindirannya. Sederhananya, dia mau mengatakan kalau urusan perut, teman saya yang orang Indonesia itu nomor satu, tapi saat semua peserta antusias dalam konferensi, dia malah tidur seperti tidak peduli. Saya tidak membalas pernyataan pedasnya itu.

Pengalaman itu cukup baik saya ingat, sampai tulisan ini dibuat. Setidaknya itu memperlihatkan dalam contoh yang sangat sederhana kondisi pendidikan tinggi yang ada saat ini; memperlihatkan sifat dan kebiasaan kebanyakan mahasiswa: mau enaknya saja, tidak mau kerja keras, bertingkah laku sok, mudah meremehkan banyak hal, tidak bertanggung jawab. Padahal, mahasiswa-mahasiswa itu yang nantinya akan memegang kendali Indonesia. Sayang, semakin ke sini, kelihatanya Indonesia makin jauh sampai di pelabuhan yang didambakan yaitu kejayaan dan kemajuan.

Menjadi mahasiswa di tanah Indonesia artinya memiliki kewajiban penuh dalam keikutsertaan dalam kemajuan negara ini, siap untuk ikut dalam setiap usaha pemecahan persoalan yang dihadapi, mau gotong royong dan turun tangan membantu masyarakat yang berkesusahaan, menjawab tantangan global lewat bidang keilmuan yang dipelajari, mengabdi lewat penelitian, dan sebagainya. Semua itu harus dilakukan dalam kesatuan tujuan yakni kemakmuran, kejayaan dan kesuksesan Indonesia.


***
Maka untuk mengubah kondisi bangsa ini, kita juga harus mengubah sifat dan ciri kita sebagai manusia Indonesia. Kalau demikian, dalam konteks kampus, mahasiswa Indonesia perlu mengubah atau menegasi sifat hipokrit, tidak peduli terhadap mutu, tidak bertanggung jawab, boros, suka menggerutu, dengki, suka plagiat, tidak disiplin, tidak percaya pada kemampuan diri dan seterusnya yang negatif. Sebab dengan perubahan atas sifat-sifat itu, diharapkan terbentuk mentalitas mahasiswa Indonesia yang konstruktif bagi pembangunan bangsa.

Kelak dalam masa perubahan itu, Indonesia bisa yakin kalau secepatnya Indonesia bisa bertransformasi menjadi salah satu negara dengan perekonomian yang kuat, negara dengan sistem demokrasi yang sehat, negara dengan jaminan penegakan hukum yang tegas, bersih dan adil serta negara yang disegani oleh bangsa lain dalam pergaulan internasional.

Lagi-lagi, mengubah mentalitas mahasiswa Indonesia yang tidak baik ke mentalitas yang sesungguhnya diharapkan bersama, membutuhkan relasi dari semua sisi yang berkaitan, mulai dari pemerintah, kampus, dosen, kurikulum, budaya ilmiah, fasilitas dan yang paling utama adalah kemauan yang kuat dari diri sendiri. Sekali lagi kemauan dari dalam diri sendiri masing-masing, disertai usaha-usaha konkret.

Waktu terus berjalan, dunia semakin cepat berlari. Negara-negara di dunia ini semakin memperlihatkan kemauan dan kesiapan untuk bersaing. Globalisasi semakin menuntut kita untuk lebih sigap. Yang tidak mampu beradaptasi dengan kondisi ini, tentu akan tertinggal.

Kini, kita hanya perlu mengubah mentalitas perusak bangsa ini yang berkembang dalam diri kita karena berbagai macam godaan. Mahasiswa Indonesia, termasuk saya, perlu menyadari dan melakukannya.

Akhirnya, mahasiswa Indonesia adalah manusia Indonesia yang bermental konstruktif bagi kemajuan dan kesuksean Indonesia di masa sekarang dan mendatang. Mereka-mereka yang hidup dalam optimisme akan kemajuan Indonesia dibalut dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang kemudian menunjukkan sifat dan karakternya sebagai manusia Indonesia yang sejati. Dengan itu kita bisa mempertanggungjawabkan kemahasiswaan itu kepada bangsa ini.


Salam,
Richard Sianturi
Mahasiswa FH Unpar, Bandung

---

Menurut gue ini adalah tulisan yang bagus banget! Gue jarang banget suka sama tulisan kayak gitu, karena gue orangnya ga suka yang ribet-ribet hahaha dan tulisan yang ribet dan ga konkret (iya w emang anak novel banget) memusingkan gue. Tapi paragraf pertama tulisan ini bikin gue tertarik untuk baca lebih lanjut.

Banyak banget sifat orang Indonesia yang nyebelin banget dan gue kaget kalau ternyata sudah ada buku yang membahas hal itu bahkan sudah ada penelitian dari antropolog terkemuka akan hal itu! Ini seperti ungkapan "namanya juga orang Indonesia" tiba-tiba punya bukti akademis yang kuat banget, hahaha! Satu hal yang gue kesel adalah orang-orang yang menghina-hina pemerintah korupsi padahal mereka sendiri sering korupsi kecil-kecilan. Aneh banget kan ya.. Oh sama untuk hal rendah diri. Gue heran banget kenapa orang-orang menganggap berlebihan soal MEA. Well, mungkin gue yang belum melihat dunia secara lebih luas sih. Tapi seperti kata Prof. Sri Edi Swasono (thanks to MPKT haha), harusnya MEA tidak dilihat sebagai sesuatu yang kompetitif tapi kooperatif. Gue percaya pemerintah tetap akan bisa membatasi outsourcing dari luar negeri, dan menurut gue MEA juga berarti bahwa tenaga kerja kita bisa mencari pekerjaan di luar negeri dengan lebih mudah kan? Jadi tidak usah takut! Lagipula lapangan pekerjaan yang kecil-kecil seperti petani, tukang ojek, pedagang toko kelontong, dll engga akan tiba-tiba diisi sama bule kok..

Kembali ke artikel di atas. Hal yang membuat gue tertarik adalah selama ini gue sendiri sering banget memikirkan hal itu. Menurut gue masih banyak banget sifat negatif yang menempel di diri kita semua, orang Indonesia, dan dalam kasus ini khususnya para mahasiswa Indonesia. Gak usah menyangkal juga ya, bahkan di diri gue sendiri ada banyak sifat buruk seperti itu. Mungkin banget kalo sifat-sifat kaya gitu yang menghambar Indonesia untuk bisa menjadi salah satu negara maju. Perlu ada revolusi mental yang gue sendiri juga sebenernya bingung sih, dengan cara apa?? Beberapa hal udah terlalu mendarah daging.

Mungkin hal yang paling mungkin untuk dilakukan adalah dengan cara kita mengubah diri kita sendiri. Pernah ada cerita, ada seseorang yang berpikir untuk mau mengubah dunia. Beberapa tahun kemudian, dia sadar kalau mengubah dunia itu mungkin ga mungkin. Akhirnya dia menurunkan standardnya menjadi mengubah negaranya saja. Tahun berlalu, ternyata itu juga sulit. Akhirnya dia memutuskan untuk mengubah kotanya saja. Masih dirasa mustahil dan setelah beberapa tahun ga ada perkembangan, ia berpikir untuk mengubah keluarganya saja. Kemudian di hari tua menjelang kematiannya, ia sadar bahwa seharusnya ia mengubah dirinya dulu saja. Dengan mengubah dirinya mungkin dia bisa mengubah keluarganya, yang kemudian memungkinkan dia untuk mengubah kota, negara, dan kemudian dunia.

Gue ga buat resolusi 2016 (hahaha), tapi mungkin artikel ini bisa membuat gue memulai bikin resolusi eaa. Semoga di tahun 2016 ini gue bisa lebih menjadi pribadi yang tidak munafik, bertanggung jawab, tepat waktu, bekerja keras, tidak suka berbicara di belakang orang lain, hemat (say no to hedon..), disiplin, dan lain-lain.