Tuesday, January 5, 2016

Namanya juga orang Indonesia

Meskipun adanya fitur official account di Line terkadang menyebalkan (karena akun-akun galau dan penipu ga jelas), tapi kadang ada yang bagus juga loh! Dan salah satu akun yang bagus menurut gue adalah akun-akun seperti Dokter OnLine dan Human Development. Kemarin ini gue baru saja dapet sebuah bacaan yang menurut gue bagus banget dan penting banget untuk gue share di sini! Selain karena gue ingin membagikannya kepada orang banyak, gue juga pengen supaya dengan adanya tulisan tersebut di blog gue, suatu hari nanti gue akan baca dan ingat lagi, tulisan ini nggak akan hilang begitu aja di antara keping memori gue *eak*.


Mahasiswa Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban
-------------------------------------

Wartawan sekaligus penulis senior Mochtar Lubis pernah menulis buku berjudul "Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban)" yang pertama kali dicetak pada tahun 1977. Isi buku itu berupa pemikiran Mochtar tentang karakter dan sifat manusia Indonesia. Salah satunya Mochtar menulis tentang 12 sifat negatif orang Indonesia: Hipokrit alias munafik, segan dan enggan bertanggungjawab, berjiwa feodal, percaya takhayul, artistik, watak yang lemah, tidak hemat, lebih suka tidak bekerja keras, kecuali kalau terpaksa, tukang menggerutu atau berani berbicara di belakang, cepat cemburu dan dengki, manusia yang sok dan manusia plagiat.

Tidak jauh beda dengan Mochtar, Antropolog Indonesia Prof Koentjaraningrat juga menulis sifat negatif orang Indonesia, antara lain: sifat meremehkan mutu, suka menerabas, tak percaya diri, tidak berdisiplin murni dan suka mengabaikan tanggung jawab yang kokoh. Ditambah lagi penelitian yang dilakukan oleh dosen Arkeologi UI Dr. Ali Akbar tahun 2011 yang mengungkapkan 10 ciri manusia Indonesia (9 diantaranya adalah ciri negatif), yaitu malas, tidak disiplin, korup, emosional, individualis, suka meniru, rendah diri, boros, percaya takhayul. Dan satu sifat positifnya adalah ramah. (Sahrul Mauludi-ed, 2015: lvi-lviii).

Yang cukup menarik sekaligus menyedihkan, penelitian oleh Dr. Ali Akbar itu ternyata melibatkan 1000 mahasiswa dari 10 perguruan tinggi antara tahun 2000-2010. Artinya dalam kurun waktu 10 tahun pun, tidak ada perubahan yang signifikan tentang sifat, karakter dan ciri orang Indonesia kebanyakan termasuk mahasiswanya secara khusus. Padahal sifat manusia dalam suatu negara sangat menentukan perjalanan pencapaian tujuan suatu negara. Misalnya seperti perbandingan yang dilakukan oleh Huntington kepada Korea Selatan dan Ghana yang sekarang dari segi ekonominya, Ghana tertinggal sangat jauh. Padahal 30 tahun sebelumnya, Korsel dan Ghana berangkat dari kondisi perekonomian negara yang sama. (ibid, lxxiii). Kemajuan Korsel dipicu oleh sifat manusia Korsel yang menghargai hidup hemat, kerja keras, suka investasi, berpendidikan dan disiplin.

Hal di atas hanya ingin menggambarkan betapa kualitas manusia suatu bangsa adalah sangat penting guna menentukan kesuksesan dan kemajuan suatu negara. Kualitas manusia itu hanya dapat dicapai dengan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang berkualitas baik pula yang kemudian bertransformasi menjadi sifat manusia itu sendiri. Karena menyangkut kemajuan sebuah negara, maka seharusnya kebiasaan itu adalah kebiasaan bersama (collective behavior), agar dampaknya dapat dirasakan juga dalam kebersamaan.

Dalam konteks Indonesia, dorongan 'Revolusi Mental' yang dicanangkan Presiden Jokowi tentu menggambarkan bahwa Presiden juga menyadari betapa pentingnya kualitas manusia Indonesia yang unggul untuk mencapai Indonesia yang hebat di berbagai bidang. Mentalitas manusia Indonesia seperti yang disebutkan Prof Koentjaraningrat, Mochtar Lubis dan Ali Akbar itulah yang harus direvolusi. Presiden tentu menyadari bahwa kelemahan Indonesia yang paling utama adalah manusianya yang bermental 'perusak' bukan yang membantu kemajuan dan kejayaan Indonesia. Untuk itu, sekali lagi kualitas manusia Indonesia yang dapat dilihat jelas dari sifat dan cirinya itulah yang akan menentukan keberlanjutan Indonesia.

 
***
Dalam sebuah kegiatan internasional, setelah sesi konferensi selesai, semua peserta yang datang dari berbagai negara menuju tempat makan malam. Tiba-tiba, saya dihampiri seorang mahasiswi dari Inggris yang berbicara kepada saya dengan pelan, "tadi saat konferensi temanmu itu tertidur pulas, saat ada pengumuman makan malam, dia berbaris di urutan paling depan". Saya tahu, kalau kalimat itu murni sindirannya. Sederhananya, dia mau mengatakan kalau urusan perut, teman saya yang orang Indonesia itu nomor satu, tapi saat semua peserta antusias dalam konferensi, dia malah tidur seperti tidak peduli. Saya tidak membalas pernyataan pedasnya itu.

Pengalaman itu cukup baik saya ingat, sampai tulisan ini dibuat. Setidaknya itu memperlihatkan dalam contoh yang sangat sederhana kondisi pendidikan tinggi yang ada saat ini; memperlihatkan sifat dan kebiasaan kebanyakan mahasiswa: mau enaknya saja, tidak mau kerja keras, bertingkah laku sok, mudah meremehkan banyak hal, tidak bertanggung jawab. Padahal, mahasiswa-mahasiswa itu yang nantinya akan memegang kendali Indonesia. Sayang, semakin ke sini, kelihatanya Indonesia makin jauh sampai di pelabuhan yang didambakan yaitu kejayaan dan kemajuan.

Menjadi mahasiswa di tanah Indonesia artinya memiliki kewajiban penuh dalam keikutsertaan dalam kemajuan negara ini, siap untuk ikut dalam setiap usaha pemecahan persoalan yang dihadapi, mau gotong royong dan turun tangan membantu masyarakat yang berkesusahaan, menjawab tantangan global lewat bidang keilmuan yang dipelajari, mengabdi lewat penelitian, dan sebagainya. Semua itu harus dilakukan dalam kesatuan tujuan yakni kemakmuran, kejayaan dan kesuksesan Indonesia.


***
Maka untuk mengubah kondisi bangsa ini, kita juga harus mengubah sifat dan ciri kita sebagai manusia Indonesia. Kalau demikian, dalam konteks kampus, mahasiswa Indonesia perlu mengubah atau menegasi sifat hipokrit, tidak peduli terhadap mutu, tidak bertanggung jawab, boros, suka menggerutu, dengki, suka plagiat, tidak disiplin, tidak percaya pada kemampuan diri dan seterusnya yang negatif. Sebab dengan perubahan atas sifat-sifat itu, diharapkan terbentuk mentalitas mahasiswa Indonesia yang konstruktif bagi pembangunan bangsa.

Kelak dalam masa perubahan itu, Indonesia bisa yakin kalau secepatnya Indonesia bisa bertransformasi menjadi salah satu negara dengan perekonomian yang kuat, negara dengan sistem demokrasi yang sehat, negara dengan jaminan penegakan hukum yang tegas, bersih dan adil serta negara yang disegani oleh bangsa lain dalam pergaulan internasional.

Lagi-lagi, mengubah mentalitas mahasiswa Indonesia yang tidak baik ke mentalitas yang sesungguhnya diharapkan bersama, membutuhkan relasi dari semua sisi yang berkaitan, mulai dari pemerintah, kampus, dosen, kurikulum, budaya ilmiah, fasilitas dan yang paling utama adalah kemauan yang kuat dari diri sendiri. Sekali lagi kemauan dari dalam diri sendiri masing-masing, disertai usaha-usaha konkret.

Waktu terus berjalan, dunia semakin cepat berlari. Negara-negara di dunia ini semakin memperlihatkan kemauan dan kesiapan untuk bersaing. Globalisasi semakin menuntut kita untuk lebih sigap. Yang tidak mampu beradaptasi dengan kondisi ini, tentu akan tertinggal.

Kini, kita hanya perlu mengubah mentalitas perusak bangsa ini yang berkembang dalam diri kita karena berbagai macam godaan. Mahasiswa Indonesia, termasuk saya, perlu menyadari dan melakukannya.

Akhirnya, mahasiswa Indonesia adalah manusia Indonesia yang bermental konstruktif bagi kemajuan dan kesuksean Indonesia di masa sekarang dan mendatang. Mereka-mereka yang hidup dalam optimisme akan kemajuan Indonesia dibalut dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang kemudian menunjukkan sifat dan karakternya sebagai manusia Indonesia yang sejati. Dengan itu kita bisa mempertanggungjawabkan kemahasiswaan itu kepada bangsa ini.


Salam,
Richard Sianturi
Mahasiswa FH Unpar, Bandung

---

Menurut gue ini adalah tulisan yang bagus banget! Gue jarang banget suka sama tulisan kayak gitu, karena gue orangnya ga suka yang ribet-ribet hahaha dan tulisan yang ribet dan ga konkret (iya w emang anak novel banget) memusingkan gue. Tapi paragraf pertama tulisan ini bikin gue tertarik untuk baca lebih lanjut.

Banyak banget sifat orang Indonesia yang nyebelin banget dan gue kaget kalau ternyata sudah ada buku yang membahas hal itu bahkan sudah ada penelitian dari antropolog terkemuka akan hal itu! Ini seperti ungkapan "namanya juga orang Indonesia" tiba-tiba punya bukti akademis yang kuat banget, hahaha! Satu hal yang gue kesel adalah orang-orang yang menghina-hina pemerintah korupsi padahal mereka sendiri sering korupsi kecil-kecilan. Aneh banget kan ya.. Oh sama untuk hal rendah diri. Gue heran banget kenapa orang-orang menganggap berlebihan soal MEA. Well, mungkin gue yang belum melihat dunia secara lebih luas sih. Tapi seperti kata Prof. Sri Edi Swasono (thanks to MPKT haha), harusnya MEA tidak dilihat sebagai sesuatu yang kompetitif tapi kooperatif. Gue percaya pemerintah tetap akan bisa membatasi outsourcing dari luar negeri, dan menurut gue MEA juga berarti bahwa tenaga kerja kita bisa mencari pekerjaan di luar negeri dengan lebih mudah kan? Jadi tidak usah takut! Lagipula lapangan pekerjaan yang kecil-kecil seperti petani, tukang ojek, pedagang toko kelontong, dll engga akan tiba-tiba diisi sama bule kok..

Kembali ke artikel di atas. Hal yang membuat gue tertarik adalah selama ini gue sendiri sering banget memikirkan hal itu. Menurut gue masih banyak banget sifat negatif yang menempel di diri kita semua, orang Indonesia, dan dalam kasus ini khususnya para mahasiswa Indonesia. Gak usah menyangkal juga ya, bahkan di diri gue sendiri ada banyak sifat buruk seperti itu. Mungkin banget kalo sifat-sifat kaya gitu yang menghambar Indonesia untuk bisa menjadi salah satu negara maju. Perlu ada revolusi mental yang gue sendiri juga sebenernya bingung sih, dengan cara apa?? Beberapa hal udah terlalu mendarah daging.

Mungkin hal yang paling mungkin untuk dilakukan adalah dengan cara kita mengubah diri kita sendiri. Pernah ada cerita, ada seseorang yang berpikir untuk mau mengubah dunia. Beberapa tahun kemudian, dia sadar kalau mengubah dunia itu mungkin ga mungkin. Akhirnya dia menurunkan standardnya menjadi mengubah negaranya saja. Tahun berlalu, ternyata itu juga sulit. Akhirnya dia memutuskan untuk mengubah kotanya saja. Masih dirasa mustahil dan setelah beberapa tahun ga ada perkembangan, ia berpikir untuk mengubah keluarganya saja. Kemudian di hari tua menjelang kematiannya, ia sadar bahwa seharusnya ia mengubah dirinya dulu saja. Dengan mengubah dirinya mungkin dia bisa mengubah keluarganya, yang kemudian memungkinkan dia untuk mengubah kota, negara, dan kemudian dunia.

Gue ga buat resolusi 2016 (hahaha), tapi mungkin artikel ini bisa membuat gue memulai bikin resolusi eaa. Semoga di tahun 2016 ini gue bisa lebih menjadi pribadi yang tidak munafik, bertanggung jawab, tepat waktu, bekerja keras, tidak suka berbicara di belakang orang lain, hemat (say no to hedon..), disiplin, dan lain-lain.

Friday, December 25, 2015

"Sekolah gue bekas rumah sakit jaman Belanda"..

Pada 23 Desember kemarin, semester satu gue di FEB UI resmi berakhir! Agak ga percaya gitu sih rasanya ternyata gue udah empat bulan jadi mahasiswa dan sekarang waktunya libur panjangg yey. Gue masih merasa biasa banget sih sebenernya.. Karena materi kuliahnya secara garis besar masih SMA banget gitu paling diperdalam dikit aja. Duhh semoga IP semester awal gue memuaskan yaa hahaha.

Dari semua kelas gue di semester satu ini, salah satu kelas yang berkesan banget adalah kelas MPKT A! :') Lucu juga sih karena gue ga ngira kalo kita bakal deket banget kaya gini. Padahal, gue awalnya nyaris gak kenal siapa-siapa di kelas ini. Gue cuma kenal Naufal dan dia udah main sama yang lain huu :( Tapi entah kenapa kelas ini jadi salah satu kelas paling berkesan eaa. Mungkin karena di kelas ini kita semua duduk melingkar gitu yaa jadinya bisa liat wajah semua orang dengan jelas gitu. Apalagi, ada banyak banget kerja kelompok di kelas ini. Bandingin aja sama kelas gue yang lain, masuk kelas langsung duduk, belajar, begitu kelar semua langsung buru-buru keluar untuk ngejar kelas yang lain sampe banyak banget yang gue ga pernah liat mukanya, eehh ternyata sekelas hahaha.

Salah satu yang mungkin menjadi faktor pemersatu kita mungkin dosennya juga ya wakakakak, kita sekelas bersama-sama berpikir keras menjawab pertanyaan "Kenapa??" sang Ibu, mencoba mencari sesat pikir di film ALNI, sama-sama pusing sama presentasi yang di awal itu diacak, dan kita kayak uhhh damn kalo kepilih presentasi gak siap tapi kalo ga kepilih nyesek karena udah buat ppt. Yha untungnya akhirnya jadi lebih jelas gitu siapa yang maju buat presentasi jadi yaudalaaa~ OH sama tugas akhir yang kayanya jadi lebih rempong daripada kelas lain :(

Nah, secara ga diduga ternyata Bu Anti (dosen kita) mengajak satu kelas untuk makan bersama di Mang Engking setelah UAS berakhir! Yeyy, seneng banget sih gue, bukan karena diajak makan juga HAHA tapi karena ini berarti gue masih punya kesempatan terakhir untuk bertemu dengan teman-teman MPKT A tercintaa! Dan emang ya kalo dosen yang ngajak tuh engga akan wacana hahaha.

Gue seneng bangett karena ketika ada acara makan-makan bareng gini gue udah ga ansos dan punya temen ngobrol wkwk. Dan bahkan bukan cuma temen ngobrol sih because some of them are really nice. So much love for this class!

--

Setelah selesai makan, entah kenapa karena ga ada topik akhirnya kita jadi cerita horror gitu. Terus ada yang kocak sih hahaha..

"Eh gue mau cerita woy sekolah gue serem banget jadi blablabla"
"Sekolah gue juga! Tapi semua sekolah juga pasti gitu ga sih? Kayak 'Ih tau ga sih sekolah gue dulu tuh rumah sakit jaman Belanda gitu' hahahahah"
"...."

and I was like.. anjir lah sekolah gue juga katanya rumah sakit jaman Belanda woy!!! Sempet jadi kuburan bahkan wakakak jadi semua ini dusta?!! Apalagi mengingat sekolah temen gue yang ngomong itu di 68 dan tinggal ngesot dari sekolah gue, mungkin saja selama ini mitos kalo sekolah gue tuh bekas rumah sakit bohong belaka... Yakali ada rumah sakit dengan jarak sedeket itu. Ahelahh ngakak banget gue pas temen gue ngomong gitu, tapi jadi agak kecewa nih. I thought my school were special..

MPKT A T (Sujanti) tercinta hueheheeh
Semester dua nanti pasti akan beda karena tiap Selasa dan Jumat ga ketemu mereka lagi, but all the best for all of us guys!

Tuesday, December 1, 2015

Hello!

It's been super awhile since I last posted!

When I was in my hanging-period (you know, the period when you waited for the college entrance exam announcement..) I liked reading people's blogs about their college struggles so much. But then I felt somewhat sad because they kinda stopped updating their blogs after awhile upon entering college. Were they doing okay? Were they feeling happy? Were they still feeling blessed?

SO,

I just want to inform you guys that I am totally doing okay here, I'm seriously feeling awesome and happy here. It's just the tasks :') but some of those are the kind of tasks I'm happy to deal with. Ciao!

Tuesday, September 15, 2015

An emergency aid whenever I feel down

12:28 am.

Again, I'm being weird.

I have this bad habit which unables me to stop while surfing YouTube. And tonight's song of the night is... Keroncong Kemayoran. Again. And again. :')))

I fell too hard for this song. Lagu ini tuh kayak ngebangkitin suatu perasaan mengharukan gitu loh dalam diri lo, duh parah deh ga bisa dijelaskan. Pokoknya gue bener-bener merasa beruntung karena sempet ikut paduan suara pas wisuda, because obviously not participating in it is one of the greatest loss in your life. Keroncong Kemayoran adalah salah satu lagu spesial yang mungkin cuma sekali lo nyanyikan dan setelahnya lo bakal nunggu-nunggu banget saat ketika lo gantian 'dinyanyikan', --saat wisuda. :')

Di saat gue sedang merasa down-downnya kuliah, plis ingatkan gue untuk berhenti sejenak dan mendengarkan lagu ini.

Walaupun yang ada di YouTube versi kotornya, tapi ini pun cukup:


Gue nonton yang ini lebih terharu lagi, secara gue kemarin nyanyiin buat merekaa!


Bonus pap.
Empat tahun lagi gue akan duduk di bawah!

Saturday, September 5, 2015

4 September

"Peringati 4 September ini sebagai hari jadi angkatan kalian!" kata kakak komdis yang (katanya) ngeselin. Bukan gue yang ngomong hahahah.

Lalu ga berapa lama kemudian tiba-tiba komdis para kumpul di belakang maba, and yeah they smiled after having those pouts for too long. TERHARU WOY MEREKA BISA KETAWA JUGA.

Dan akhirnya berakhir juga hari-hari pasca OPK FEB UI 2015 yang diisi dengan banyaaaak banget jalan sampe kaki udah kayak kuli dan wawancara kesana kemari di saat masih juga harus mendatangi kelas. But the experiences were just.. that wow. Walaupun gue agak merasa tersiksa OPK, tapi mungkin ini bakal jadi salah satu momen-momen saat kita masih bener-bener berjuang bareng seangkatan. Setelah ini mungkin banyak yang udah ngambis ngejar tujuan masing-masing dann tugas-tugasnya juga udah pake otak wgwg kalo tugas OPK kan cuma ngejar kuota kata minimal aja tuh esainya (?)

Pengalaman OPK tuhh banyak banget deh dimulai dari hari pertama briefing OPK ketika semua orang masih terasa so stranger banget. Tapi lain kali aja ceritanya ah capequeee.

Btw gue udah buat kayak ginian anjir, niat banget ga sih gwwwww tapi jadi males ngelanjutinnya hwhw

atas dasar ingin berbagi bersama kalian para calon maba :') EAA

Sekarang ini gue lagi bikin tugas gitu dehh *ciee tugas perdana* dan tiba-tiba di salah satu video wajib yang harus ditonton untuk tugasnya gue mendengar ada lagu Rayuan Pulau Kelapa. Seketika flashback..

Gue jadi inget ketika kemarin ini gue ikut salah satu rangkaian KAMABA yaitu menjadi petugas paduan suara Wisuda UI. Gila, keputusan untuk gak ikut-ikutan bolos di acara wisuda mungkin salah satu keputusan terbaik yang udah gue buat selama masa ospek. (the worst being skipping padus class... wkwkwk) Acara ini mungkin salah satu acara yang bener-bener ngebuat gue ngerasa benar-benar terlibat dan dapet inspirasi banget. Banyak ya yang bilang kalo ikut padus acara wisuda kita jadi kayak pengen cepet-cepet lulus, dan itu lumayan benar sih. I mean, gue sedih sebenernya ngeliat para wisudawan yang abis ini statusnya udah bukan mahasiswa lagi. Tapi gue ngejar hal lain dari wisuda UI.

Paduan suaranya itu loh.. mantap. Gue pengen denger lagi padusnya tapi mungkin kesempatan selanjutnya adalah pas gue wisuda doang. Mungkin salah satu paduan suara terbaik yang pernah gue ikuti, biarpun pecah suaranya gak sukses-sukses amat HAHAH okey mungkin ada yang pecah suaranya berhasil. Tapi aku mah apa atuh udah buta nada kemarin duduk di barisan sopran lagi.. (gue alto) Hanya saja human error di atas sama sekali gak ngebuat gue nyesel karena toh gue masih amazed sama padus maba UI.

Untuk pertama kalinya dalam hidup gue, gue denger lagu Keroncong Kemayoran dan Rayuan Pulau Kelapa. Selama ini gue cuma tau judulnya dan kemarin gue harus nyanyiin dan ini pengalaman baru banget buat gue.. Saking kangennya gue seriing banget cari-cari di youtube lagu Keroncong Kemayoran terutama nih. Dan emang gak bisa dipungkiri kalo versinya UI tuh versi the best banget lah. Apakah ini motivasi Pak Dibyo bisa semangat banget melatih maba selama 30 tahun lebih berturut-turut? Supaya bisa menghasilkan karya sekeren ini lagi? Supaya bisa menggugah hati manusia-manusia keras seperti gue lahhh apa sih wkwk.

Selain itu lagu Gaudeamus Igitur juga behhhh bikin merinding! Gue lupa lirik sih wakakak padahal udah berencana buat ngafalin tapi yaa.. yaudahlah. Lagu ini tuh keren banget lah apalagi pas dinyanyiin sama padus UI.

Gaudeamus Igitur (de brevitate vitae)

Gaudeamus igitur
iuvenes dum sumus.
Post iucundam iuventutem
post molestam senectutem
nos habebit humus

terjemahannya adalah:

Let us have fun then (on the shortness of life) 

So let us have fun then
while we're still young.
After the delightful young age of liveliness
after the scornful old age of grumpiness,
the dust will bite us

Bener-bener lagu yang pas untuk wisuda maupun menyambut maba.. :') Gue gak nyangka kalo arti dari lagu ini tuh bakal kayak gini. Gue pikir artinya adalah tentang bagaimana hidup akademisi yang baik, tapi ternyata lagu ini mau mengajak kita untuk menikmati masa muda kita!

Entah kenapa gue merasa optimis kalau hari-hari perkuliahan gue ke depan akan diwarnai dengan hal-hal menyenangkan. Nah, tugas wawancara OPK yang rempong itu tuh ternyata beberapa berkesan banget buat gue.. Ternyata di dunia persaingan kejam macam kampus tuh masih ada gitu beberapa komunitas yang kekeluargaannya kaya banget, and I want to be a part of them! Ahh, gue juga udah punya teman baik lohh ihihi *lirik lirik*

Pokoknya setiap hari, tanggal 4 September, gue mau.. mau ingat hari-hari pertama gue terus! Mau bersenang-senang selagi muda! Selagi hari-hari tua penuh gerutu belum tiba dan debu-debu belum melahapkuu! uyeah.

Menutup postingan yang agak gak jelas arahnya mau kemana ini, gue mau mengutip salah satu lagu nasional favorit.

Cuci cuci.. (HEY!) di pinggir sumur (HEY HEY) teman sejati, tak bisa luntur.. 

Wednesday, August 5, 2015

Late night thoughts

Ini random sih, hahaha. Biasanya gue gak suka sih, ngepost di kondisi seperti ini karena takut kesannya nyindir dan lain sebagainya, tapi engga kok. Cuma kebetulan aja gue lagi buka laptop dan lagi kepikiran satu hal, dan kebetulan aja baru mengalami beberapa hal. (?)

I think we think and worry too much about what people would say about us. About our doings. About our sayings. About-- about everything!

And that's kind of annoying to me. 

(But seriously, I may be the type of person who gets annoyed a bit too much, but that won't ever ever change my attitude towards you, people! So please don't ever be scared to annoy me haha)

Ada aja gitu orang-orang yang menurut gue peduli banget sama apa yang orang-orang pikir tentang dia. Ga usah pengen banget bertindak cool lah :) you are cool if you are kok haha. And being cool doesn't mean you're fun to be with juga kan. If worrying about others matters so much for you to the level it often changes who you really are, then you're the weird one.

I may be one of them, though.

Monday, July 27, 2015

OTW UI! (part 2)

--bersambung dari OTW UI! (part 1).

Di hari Senin, gue kembali ke rutinitas awal lagi, les intensif! Agak merasa tertinggal gitu sihh pas les, ternyata Inten jadi makin sepi gitu karena sebagian besar udah dapet undangan. Seperti kata orang di blog gue, gak keterima undangan justru harus bikin lo makin gencer belajar untuk SBMPTN-nya. Makanya mulai hari itu langsung deh gue bangun lebih pagi dan mulai ngulang-ngulang materi. Pulangnya juga gue nggak main-main lagi tapi belajar lagi.


Gak lama gue tiba-tiba kaya tersadarkan kalo SBMPTN tinggal kurang dari sebulan lagi dan gue masih ngeraba-raba beberapa materi. Ternyata program intensif itu kebanyakan juga bahas soal doang. Efektif sih, tp gue ngerasa kalo gue mesti tau yang lain-lain juga dan gak cuma yang di soal, gimana coba kalo misalnya ternyata yang keluar materi yang sama tapi dengan pertanyaan yang belom gue latih sebelumnya? Kan keki abis tuh.. Untung gue inget bahwa gue masih punya sisa masa aktif Zenius! Iya, setelah 2 minggu gue belom gitu serius, gue mulai buka lagi webnya. Tiap malem gue pantengin video materi SBMPTN terutama yang teori Ekonomi bab terakhir-akhir, Sosiologi dan Sejarah, gue emang lemah banget di situ.

Gue juga pake buku kuning kecil yang SKS ituu, gue cinta banget deh sama buku itu, selain bahan kertasnya yang gue suka, isinya lumayan komplit. Tiap nonton video malem-malem, pasti deh gue siap stabilo, bolpen, sama itu buku kuning. Tiap ada materi baru gue cari bahannya di buku terus gue stabiloin, kalau belom ada baru gue tambahin. Gue merasa itu buku makin sakti dari hari ke hari. (?)

Tiap minggu, Inten selalu mengadakan TO dan puji Tuhan kerja keras gue ga sia-sia karena ternyata hasil TO gue naik terus dari minggu ke minggu. Ya emang sih TO doang kan gitu tapi seenggaknya lo jadi punya kepercayaan diri tertentu gitu dalam menghadapi ujian SBMPTN yang makin deket.

Tanggal 19 Mei 2015, gue dan beberapa temen sekelas memutuskan buat barengan ngeklik pendaftaran SBMPTN-nya, dengan harapan bisa dapet tempat tes yang deketan. Gue sendiri memutuskan kalau pilihan gue di SBMPTN nanti cukup satu aja, Akuntani UI. Nah malamnya gue on Skype bareng beberapa temen. Deg-degan banget pas mau ngekliknyaa!

Momen tak terlupakan nih
Dan.. voila! Ternyata gue dapet di tempat yang sama dengan 2 temen gue yang lain itu. Yhaa meskipun kita nggak pergi bareng, seenggaknya disana dapet temen dan nggak sendirian.