Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Thursday, July 23, 2015

Angry Mom!

Angry Mom
Park No-ah
Oh Ah Ran
Jo Kang Ja / Jo Bang Wool
Di Wikipedia,
Jo Kang-ja was once legendary for being the toughest, most feared troublemaker at her Busan high school. When she gets pregnant in her late teens, she drops out of school and tries to become a responsible mother to her daughter, Oh Ah-ran. Fast-forward to the present, and Kang-ja is now in her thirties and Ah-ran is a teenager. The two have a contentious relationship, with Ah-ran ashamed of her quick-tempered, foul-mouthed, sashimi knife-wielding mother for the latter's unrefined ajumma manners. When Ah-ran befriends the class outcast, it makes her the target of the school bullies who make her life hell; yet she's too proud to tell her mother what's happening. When Kang-ja finds out that her daughter is getting bullied, she decides to take matters into her own hands. Unbeknownst to Ah-ran, she enrolls in her daughter's high school as an undercover student with the false name "Jo Bang-wool" to teach those bullies a lesson. But, she learns that there are bigger, darker problems within the educational system, and Kang-ja makes it her mission to put a stop to the school violence, with the help of Ah-ran and naive, idealistic homeroom teacher Park No-ah.

Menarik kan plotnya?! Gue penasaran aja pas pertama kali, waduh gimana ini ibu-ibu nyamar jadi anak sekolah woww *excited* Kemudian gue coba nonton episode pertamanya... HAHAHA LUCU BANGET! Entah mood gue sedang baik atau gimana, tapi 20 menit pertama episode pilotnya sukses bikin gue ketawa. Akhirnya niat gue udah bulat deh, gue akan download semua serinya! Ini adalah seri drama pertama yang gue download sendiri, btw.

Plot cerita ini menarik bangeett dan biarpun banyak hal baru yang ditawarkan setiap episodenya, tapi gue rasa drama ini selalu gak kehabisan ide. Plotnya berjalan cepat tapi juga padat. Kayaknya inilah drama sesungguhnya deh (?) Banyak juga sih adegan yang gue rasa terlalu menegangkan sampai pengen gue skip, tapi ya tetep seru aja. Apalagi banyak banget yang lucu dari drama ini!

I screenshot some (MANY, I mean) scenes which I found interesting.

Hong Sang-Tae's glasses is... lensless. :') "Korean" 
LOL abis liat dia kucek-kucek mata kayak gini hahahaha!

Han Gong-Joo's hilarious speech HAHA

speechless gue wakakakak bisabisa

Gwaenchanha!

While waiting for my suuuuuperlong holiday to end, I watch like, lots of Korean dramas. Hahaha! #noshame

Well, actually only three Korean dramas:

It's Okay That's Love


Gue cukup yakin pernah liat poster ini di bus selagi gue berdiri di halte transjakarta Jatinegara.. hmm..
Dari awal gue mulai nanya ke temen-temen gue drama Korea apa aja yang mereka rekomendasikan, judul drama ini hampir pasti selalu ada. Gue jadi kepo banget kan, ih sebagus apa sih dramanya? Akhirnya kesempatan untuk menonton drama itu ada juga.

Monday, July 20, 2015

The Casual Vacancy

Hari libur ke-96!

Akhirnya setelah libur selama 3 bulan lebih, gue baru berhasil menyelesaikan The Casual Vacancy. Semerosot inikah niat membaca gue dibandingkan dulu? :')

Awal ketertarikan gue membeli buku ini bahkan bukanlah karena nama pengarang JK Rowling (yang menulis serial Harry Potter yang gue suka banget), tapi gara-gara bukunya diobral! Hahaha. Kayaknya pas buku ini pertama dirilis, penerbitnya terlalu bernafsu deh sampai mencetak buku hardcover sedemikian banyak. Padahal, mungkin ada banyak pembaca Harry Potter seperti gue yang belum tentu akan tertarik sama semua novelnya JKR tanpa kecuali.

TAPI GUE SALAH BANGET.

Awal cerita yaa biasa lah ya agak membosankan, gue emang orangnya gitu di awal-awal suka males, tapi kalo udah terjerumus bah udah deh. Dan hal yang sama terjadi dengan buku ini! Ketika salah satu plot The Casual Vacancy mulai menyentuh karakter-yang-akhirnya-gue-suka-banget, buku ini mendadak jadi super seru dan gue kembali dihadapkan dengan perasaan: anjir, ini gue ngintip endingnya duluan apa nggak ya?!

Sinopsis buku ini nggak begitu menarik sih, menurut gue. Terkesan bukunya berbau politik sehingga sepertinya inilah yang ngebuat gue pada awalnya agak males (if only not for the discount!) But lo salah banget kalo berpikir buku ini tentang politik. Buku ini menawarkan banyak banget cerita tentang kehidupan masing-masing individu di sebuah desa kecil. Barry Fairbrother adalah satu-satunya nama yang disebut dalam sinopsis, tapi percayalah cerita buku ini sama sekali bukan tentang Barry, melainkan tentang orang-orang di sekitar almarhum yang saling terhubung dengan dan karena Barry.

Btw, gue sama sekali nggak bermaksud mereview buku ini sih. Gue terlalu malas untuk meringkas ceritanya karena, well, gue merasa detail-detail kecil yang ada tuh penting banget demi kelangsungan cerita. Kita anggap aja ini curhatan pribadi gue karena abis mindblown gara-gara bukunya yaa, hahaha.

Karakter dalam buku ini menurut gue terkesan sangat nyata dan alasannya ya karena lo bisa banget menjumpai hal-hal dan orang-orang kayak gitu di kehidupan sehari-hari. Orang yang sok berkuasa, orang yang korup dan sok pintar, orang yang pencitraan aja kuat, orangtua yang secara gak sadar membanding-bandingkan anak, anak yang membenci orangtua mereka, remaja yang mengatasnamakan hal-hal yang sebenernya gak gitu penting untuk membenarkan perbuatan mereka, orang-orang penggosip, orang-orang yang disalahpahami. Dan masih banyak orang-orang lainnya.

Monday, June 29, 2015

Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru!!!

Sekali lagi, YAHARI ORE NO SEISHUN RABU KOME WA MACHIGATTEIRU! Hahaha, gue cinta banget sama anime ini sampai bela-belain ngapalin nama panjangnya (biasanya disingkat jadi Oregairu aja). Lagi ah, Yahari Ore no Seishun Rabu Kome wa Machigatteiru!!!!!!!! Hahaha :')

Gue baru aja menyelesaikan season ke-2 dari anime ini, lalu gue merasa perlu banget di-share haha. Ketika pertama kali direkomendasikan serial ini, untungnya gue lagi niat buat langsung cari anime-nya di Youtube. Gue biasa emang suka bandel, suka males nyari-nyari anime-nya biarpun udah dikasih tau lol. Terus pas gue nonton, gue merasa tertarik banget dengan tema anime-nya yaitu (menurut wiki) social psychology. Entah kenapa gue merasa Oregairu sangat mengingatkan gue sama Hyouka (yang juga bagus bangeet, misteri gitu tapi gak serem). Lalu Oregairu juga bergenre romance comedy, slice of life, dan school. Perfect combination for me :')
Full cast of Oregairu (from Light Novel)

(l to r) Hachiman Hikigaya, Yuigahama Yui, Yukinoshita Yukino

Friday, May 8, 2015

Good songs are lyf!

It's D-1 to SNMPTN announcement, I know I've said like zillion times that I didn't quite expect to get enrolled through that non-test way. But still, I'm feeling anxious.

So instead, I'm about to share you the current song-of-my-heart today.



This one is kinda funny and idiot (?) though, but I found it catchy.


Wednesday, April 29, 2015

Another 20 hours (still) not wasted!

Hai.

Postingan kali ini tuh season 2-nya postingan ini ya :p

JADIIDIDIDIDIDIDIDIDIDI ternyata gue kangen banget sama Pinocchio bahkan belom setahun berlalu sejak terakhir kali gue menontonnya :( Akhirnya setelah ngebet parah banget sejak sebelum UN (di rumah sakit kepikiran Pinocchio, liat reporter kepikiran, liat kecoak juga kepikiran..), beberapa hari setelah UN berakhir gue memutuskan untuk nonton ulang Pinocchio. Woohoo!

Kesan gue setelah menonton Pinocchio untuk kedua kalinya ini memang agak berbeda. Gue udah ga segreget dulu, tapi ya wajarlah, namanya juga bukan pertama kalinya. Tapi gue akan tetap cinta sama Pinocchio kok.. dan siapa tau? Mungkin beberapa tahun lagi ketika gue udah nggak sok sibuk, gue bakal nonton ulang lagi hahaha.

Timing gue nonton ini emang agak ga tepat sih, karena gue kan udah mulai Inten (ANJAS) dan sampai rumah udah jam 9. Bener-bener mepet waktunya untuk nonton. Hanya karena kecintaan gue yang luar biasa inilah, gue menyempatkan diri untuk menonton woohoo.

Setelah gue me-review asal di postingan sebelumnya, kali ini gue mau share beberapa scene yang menurut gue memorable abis aja, tanpa nge-spoiler banyak-banyak.

Saturday, April 18, 2015

Review: Dead Poets Society [1989]

Hanjir.

Itu yang gue ucapkan sepanjang film. Serius, filmnya keren banget. Pertama tahu film ini adalah saat gue ngecek film IMDb dari rating tertinggi. Lalu, ketika gue nyari film dengan tema pendidikan (iya, gue emang suka genre film kayak gitu). Terakhir, ketika Robin Williams meninggal tahun lalu. Awalnya gue ngerasa ragu dengan film ini, karena film ini udah lama banget. Pengalaman gue kurang enak dengan The Breakfast Club yang juga film lama, itu film garing abis..

Tapi akhirnya setelah melalui semua regulasi sistem pendidikan menengah atas (ih, kosakatanya.. ngaco..), kesampean juga nonton film yang mengkritisi sistem pendidikan ini.

Dead Poets Society

Menceritakan tentang kehidupan sekelompok anak muda di sebuah preparatory school kenamaan di Amerika, Welton Academy. Kayaknya sih sekolah ini elit banget ya. Tahun itu, Welton mendapatkan seorang guru bahasa Inggris baru yang sangat unorthodox, Mr. John Keating. Keating percaya bahwa puisi adalah sesuatu yang merupakan ungkapan perasaan manusia. Menurut Keating, puisi bukanlah hal yang dapat diteorikan. Puisi bisa kayak apa aja, sederhana, pendek, dan lain sebagainya.

Sunday, March 22, 2015

Beyond the Most Classified Codebreaking in the World

Sometimes, it is the people who no one imagines anything of who do the things that no one can imagine
It's amazingly said on The Imitation Game, which I have just finished watching just minutes ago. The thrill was still here, I'm still feeling it SO MUCH.

---

The Imitation Game
the casts of The Imitation Game


Setelah berminggu-minggu menunda menonton The Imitation Game, akhirnya malam ini gue tuntaskan juga niat itu. Salah satu ciri dari film British, menurut gue, adalah nuansanya yang tidak seceria film Amerika. Kebanyakan film British yang terkenal lebih bernuansa sejarah, oleh karenanya tampilannya pun agak muram, kurang berwarna. Tetapi untungnya hal ini diimbangi dengan scoring yang luar biasa. Hal ini membuat gue jatuh hati pada film-film British, misalnya Harry Potter, The King's Speech, dan Hugo, selain aksennya tentu saja, he he.

Monday, October 20, 2014

An Abundance of Katherines

Secara pribadi, gue suka dengan nama yang berawalan huruf K. Hal ini juga salah satu faktor yang membuat gue tertarik membaca buku An Abundance of Katherines karya John Green. Nyebutin judulnya aja udah berasa keren abis gue.. En abændens of kathrins, dibikin brits brits gitu wakakak. Oleh karena itu biarpun gue udah trauma baca bukunya John Green karena seakan-akan selalu ada yang mati, but gue tetep tertarik baca buku ini!

Dan pilihan tepat sekali guys. Karena akhirnya telornya pecah. Jackpot. Ga ada yang meninggal kali ini.


le book

Berkisah tentang Colin Singleton yang selalu suka dengan cewek bernama Katherine. Seumur hidupnya dia udah pacaran dengan 19 Katherine dan selalu diputusin. Tetapi kali ini beda, karena Katherine ke-19 rasanya udah bener-bener orang yang tepat bagi dia. Bersama Hassan, temannya yang merupakan keturunan Arab, mereka berdua berkendara meninggalkan kota Chicago untuk menghilangkan patah hati-nya Colin.

Mereka akhirnya berhenti untuk melihat makam Archduke Franz Ferdinand, itu loh putra mahkota kerajaan sori-lupa-kerajaan-mana yang dibunuh oleh teroris Serbia dan akhirnya memicu Perang Dunia I. Tempatnya ada di suatu daerah agak terpencil bernama Gutshot di Tennesee. Disini mereka diarahkan ke sebuah toko yang dijaga oleh seorang cewek bernama Lindsey Lee Wells. Ternyata dia jugalah tour guide mereka untuk melihat makam sang Archduke. Menarik juga karena Lindsey ini ternyata pacar dari orang yang namanya juga Colin. Lindsey juga ternyata anak dari Hollis, mamanya yang jarang dipanggil Mom, yang punya pabrik terbesar satu-satunya di Gutshot yang memproduksi, uh, tali tampon.

Seluruh cerita berfokus pada Colin dan Hassan yang akhirnya nginep di rumah Lindsey yang gede banget, mereka berdua ditawarin pekerjaan sama Hollis untuk nge wawancara seluruh penduduk Gutshot. Ketika mereka bertiga disuruh wawancara pada penduduk tua, gue jadi ngerasa omg gue mirip banget sama Lindsey dalam beberapa hal. Kemudian gue suka banget cara John Green menceritakan gimana respeknya seluruh penduduk Gutshot terhadap Hollis sang pemilik pabrik. Tapi ironisnya, ternyata pabrik Hollis tuh udah kekurangan pembeli dan 75% dari produksi tali tampon (ih tampon apaan sih) pabriknya cuma menumpuk di gudang karena ngga ada yang beli. Meskipun demikian, Hollis gak mengurangi produksi pabriknya karena itu berarti mecat sebagian besar pekerja pabrik. Ironis.

Cukup sampai situ aja cerita gue.. karena kalian bisa baca sendiri ceritanya. Tapi review gue di paragraf bawah ini juga gak lepas dari spoiler kok, hehehe.

Gue lupa bilang kalo Colin ini adalah anak yang didiagnosis anak ajaib dan dia suka banget buat anagram. Misalnya Monalisa dibikin jadi I am Salon atau semacam itu. Colin sedang ada dalam fase ketika dia sadar kalo dia gak akan pernah jadi jenius (anak ajaib, berarti pandai mempelajari sesuatu, tapi anak jenius menciptakan sesuatu) dan cuma bisa belajar dan sebagainya. Dia juga sebenernya agak suka dipuji dan agak congkak, tapi ya itulah. Dia yakin bahwa dirinya udah ada dalam suatu titik yang mengakhiri masa kejayaannya sebagai anak ajaib. Hassan? Dia orang yang mudah bergaul dengan orang lain tapi juga dikisahkan kalau dia males banget untuk kuliah. Turns out kalo ternyata Hassan ini mencoba menjadi seorang Pelaku dengan melawak dan sebagainya, karena dia sendiri sadar kalo dia belum pernah melakukan apa-apa seumur hidupnya dan cuma bisa ngelawak. Lindsey? Dia tipe orang yang merasa dirinya munafik karena dia selalu cenderung merubah kepribadiannya ketika berinteraksi dengan orang yang berbeda. Lindsey juga gak suka jadi menonjol dan dia pikir, orang yang menonjol atau terkenal adalah orang yang menderita. Makanya dia suka baca Celebrity Living, karena dia menganggap orang terkenal itu menderita banget dan dia mendapat guilty pleasure dengan melihat orang menderita. Berbeda banget dengan pendapat stereotip Colin yang nganggep kalo orang yang baca majalah itu adalah orang-orang yang.. gitu deh.

Ceritanya menurut gue seru banget. Secara pribadi gue gak suka dengan cerita yang terlalu banyak konflik atau yang bikin deg-degan gak enak. Makanya aneh juga ya kalo gue suka Harry Potter dan Percy.. (Tapi ada unsur sekolah asrama disana yang gue suka so shut up). Ceritanya John Green biasanya gak memasukkan cerita yang kalo digambarin alur ceritanya, garisnya itu gak naik secara dramatis. Kedinamisan buku-buku John Green amat sangat terkontrol, tapi kalo digambarin dengan alur tadi, garisnya tebel. Jadi maksud gue, biarpun dengan alur yang gak gimana-gimana banget, ceritanya entah kenapa seru dan ngena abis, pake banget-sangat-amat-dll.

Di awal cerita, Colin menganggap Lindsey gak asik karena dia baca Celebrity Living dan berbagai prasangka lainnya. Tapi seiring cerita berjalan, ternyata Lindsey adalah orang yang bener-bener keren banget (bagi gue juga dia keren!). Gue udah bisa nebak sih dari pas Lindsey yang berkorban ngajarin Colin menembak pake senapan sampai kasih tau Colin tempat persembunyiannya, kalo ada apa-apa diantara mereka. Tapi tetep, momen ketika:
“That’s who you really like. The people you can think put loud in front of.”
“The people who‘ve been in your secret hiding places.”
“The people you bite your thumb in front of.”
“Hi.”
“Hi.”
“…”
“…”
“Wow. My first Lindsey.”
“My second Colin.”

J A C K P O T. Yahoooo! Love ya, Sir John Green! Oke gue freak.

Momen-momen Colin dan Katherine XIX juga gak kalah sweet kok wakakak, but gue males ketikin ulangnya so bye, K. Tapi ending ini boleh dibilang dream come true banget. Andai aja Alaska juga bisa kayak gini sama… shit gue lupa bahkan tokoh utamanya siapa. Andai aja Gus sama (umm… Grace?) bisa kayak gini juga. Duh duh duh. Tapi 2 buku (tragis) yang gue baca sebelumnya itu justru bikin An Abundance of Katherines spesial banget.

Ngomong-ngomong buku ini punya banyak banget footnote jadi mesti sabar ya. Udah gitu ada banyak grafik kartesius yang bikin pusing, rumus Matematika yang untungnya gak perlu dikerjain, lalu lampiran dari Daniel Biss yang katanya salah satu ahli Matematika muda di Amerika. Tapi justru itu yang ngebuat buku ini spesial. Apalagi gue sendiri merasakan beberapa keterkaitan dengan beberapa kepribadian ataupun pemikiran John Green yang dituangkan dalam buku ini melalui karakter-karakternya.

So recommended!
4.9/5.0


Saturday, October 11, 2014

John Green and His Jackpot

I always like the word 'green', it's so simple yet you can imagine a lot of nuance (I wouldn't say things, that's so tangible, boo). Undepictable, but I will say hearing the word green would make me think of something butter-sweet, peaceful, cool, et cetera cetera. Also that's funny to see the woed green written with colours but green. Now that John Green is a worldwide-known writer and I also happen to like his books except for The Fault in Our Stars, I wanna talk about him.

He is that one-of-a-kind writer who likes to pick such mainstream genre in an anti-mainstream style. Love story? Lame. But love story which involves a guy and a gurl who has another guy but they are platonic or a so-me guy with a so-me girl (i mean hopeless, dreamless, that stuff)? That's something. Also I admire the way he shows us that he did sooo much damn useless research for all the minor-but-major details in his books. I bet those aren't something you can just type in that search bar on google.com. And making those anagrams? Either he is a genius or he is a diligent freak who spent like 20 minutes more for every anagrams he created. But duh, maybe that can only be because English is really his thing but no, you don't tell me stuff like that. I knew it. I'm just amazed.

Sadly his stories are always ended with an unfavorable ending for readers. According to my experience, death is inevitable. Or they just don't get together. Or or or and another or. It maps my mind and I'm just being traumatic for reading more books of him.

GOSH,
That's before I finally made my mind to try reading An Abundance of Katherines. And after peeking to its ending, I think I've hit the jackpot this time.

(random thoughts while blank-reading page 139)

[YOU WILL DEFINITELY GET MY REVIEW ON THIS BOOK BECAUSE I'M SO IN LOVE WITH THIS BOOK RIGHT NOW.]

Friday, October 10, 2014

Bahagia itu Sederhana

The one and only Ghost Only

Gue suka banget sama komik berjudul Ghost Only. Komik ini cuma one-shot di Indonesia dan gue dapet ketika gue ulang tahun di tahun 2008 dari temen SD gue, Angelline. Komik ini terlalu bagus sampe akhirnya sekarang gue terus aja nyoba nyari komik one-shot yang sebagus ini, tapi ga ketemu-temu.

Gue sukaa banget baca ulang komiknya dan selalu bisa ketawa. Satu hal yang gue benci adalah komik ini seakan gak tuntas, gue gatau nasib dari para pekerja restorannya, gue gatau kelanjutan si Ema sama Ren. Meskipun yang paling nyesek sih, gue gatau kenapa si Enomoto bisa meninggal dan.. dia tuh beneran banci apa engga.

Hari ini gue tiba-tiba ketemu lagi komiknya dan gue iseng-iseng cari lanjutannya gitu.

HOLYMOTHERSHEET!!!!!!!!!!! TERNYATA MASIH ADA 6 CHAPTER LANJUTANNYA. MESKIPUN BELOM BISA BACA SEKARANG KARENA INTERNET LEMOT TAPI HARAPAN SEKECIL INI AJA CUKUP.

Bahagia itu sederhana.

Wednesday, September 24, 2014

I'm a Dog, Too!



Gue baru aja nonton Mr. Peabody & Sherman!

(2014) Mr Peabody & Sherman

Maret 2014 lalu, ketika film ini keluar di Blitz, gue malah nonton Need for Speed. Sepulang dari sana gue baru cek sinopsisnya di internet dan ternyata ceritanya keren gitu, soal sejarah. Gue emang suka banget sejarah kan jadi agak nyesel gitu kenapa waktu itu malah nonton NfS. Tapi bahkan ketika gue udah punya filmnya di laptop pun, gue masih agak sanksi untuk nonton film ini. Karena film animasi, dan gue sebenernya agak kurang suka dengan film animasi karena menurut gue sekarang jadi membosankan.

Ternyata salah banget. Hari ini (berasa belom mau mid) gue nonton film ini dengan pertimbangan ini udah malem dan gue gak butuh film jantungan lainnya. Ternyata filmnya bagus banget.. Sejarahnya dapet banget dan seru gitu. Animasinya juga bagus, gue suka aja sama orangnya soalnya lucu. Kan ada tuh, animasi yang agak freak kayak The Croods haha -_- Filmnya juga lucu dan karena bercerita tentang sejarah-sejarah dunia, dengerin aksennya aja udah lucu (si Mona Lisa lah udah paling-paling). Terus yang si Einstein main rubik dan dia masih nyisa satu blok terus dia frustasi parah, itu lucu banget demi apapun haha. Dan yang nilai plus yang menurut gue paling mantep adalah konfliknya gak kebanyakan, gue suka sekali dengan film cinta damai seperti ini :')

Sayangnya filmnya terlalu jenius ah. Gue jadi teringat-ingat Fisika.

But recommended banget! Membuat lo suka Fisika (lagi) hahaha apasih gak gak abaikan. Terus kalo kebetulan lo suka sama Percy Jackson kayak gue, pasti agak-agak nostalgia gitu pas di Mesir sama yang Trojan War.

And, I'm a dog too!

Sunday, August 31, 2014

APASIH.

Gue punya geng baru nih, geng BB! Bio BI.

APASIH.

Guru-guru sekarang jadi demen banget ngasih tugas kelompok dan lainnya. Dari sekian banyak kelompok yang gue punya, dua diantaranya terdiri dari orang yang sama. Nah, bersama 4 orang ini gue masuk ke dalam satu grup yang fungsinya adalah untuk ngomongin tugas-tugas ini.

Tapi beberapa hari belakangan ini, fungsi grup agak bergeser sedikit. Kita jadi mulai ngegosip dikit-dikit disini dan ngomongin hal-hal random juga. Bahkan kemarin kita udah sempet nonton bareng!

Awalnya gue berencana untuk nonton Lucy tapi cuma bertiga, lalu satu anak geng kita (easek) juga ternyata mau ikut. Jadinya kita pergi berempat deh, dan agak seru sih biarpun cuma nonton terus pulang. Apapun juga seru kalau dilakukan di tengah-tengah minggu yang agak freak dan sibuk ini :')

Lucy adalah sebuah film yang dibintangi oleh ..err gue lupa namanya. Oh, Scarlet Johannson! Gue agak suka dia sih soalnya dia keren gitu, tapi kadang juga agak gak suka dia. Apasih. Tapi tema filmnya keren gitu dan gue kepincut banget sama trailernya. Konsep ceritanya juga keren, karena hal-hal yang gak disengaja, narkoba yang ada di dalam tubuh dia bocor dan memungkinkan si Lucy untuk mengaktifkan otak dia sampai 100%, seperti yang kita tau manusia cuma bisa memanfaatkan kira-kira 10% kapasitas otaknya.

Ceritanya keren jadi menurut gue filmnya keren. Pas adegan Lucy mau battle face to face sama si Korea juga kece parah. Gue juga suka jaketnya dia wakakak apasih. Endingnya juga agak mindblown, eksistensi si Lucy jadi di luar manusia and she simply disappeared. Dengan twisted ending kayak gini, dasar bukan film drama, gue gak nyesek-nyesek amat ketika si Lucy gak jadi sama si polisi (yha polisinya juga jelek sih). Jadi endingnya bukan sesuatu yang mengganggu gue banget.

Cuma agak disesalkan kenapa mesti ada footage dari beberapa rekaman mengenai alam liar dan lain-lain (gue benci banget channel kayak gitu oh God.) Dan sayang aja ceritanya kurang dikembangkan, misalnya keluarga Lucy kan katanya udah ketauan siapa aja, ya kenapa si penjahatnya gak pake keluarga mereka aja gitu buat menggertak Lucy. Terus apaan ya, temennya Lucy juga kurang diceritain lagi tuh, padahal gue merasa pernah liat dia. ((DAN KETIKA GUE NULIS BLOG INI OMG BARU INGET DIA KAN SI FREAK YANG ADA DI CRAZY STUPID LOVE OMG OMG OMG))

Tapi overall ceritanya lumayan. Apalagi ditonton bareng bersama geng BB! Sayangnya geng gue agak susah diajak foto bersama.

--

Komentar mengenai film ini:

Berasa belajar Bio. - Si AnakNonton Spation
Jelek bangeet! Endingnya ngga jelas. - Kecha
Ini film pasti disponsorin sama natgeo deh. - imut1
KEREN. BANGET. - (gue nggak nanya sama orangnya, tapi pasti gitu) Kenjisung 

UPDATE: si freak di Crazy Stupid Love ternyata... pernah ikut ANTM. Duh, dunno abis kenapa bisa kayak gini. #mindblown

Thursday, June 19, 2014

FBND

Halo! Gue baru aja menyelesaikan nonton sebuah drama Korea berjudul Flower Boy Next Door.

Sebenernya udah dari lama banget gue pengen nonton drama Korea, abis bagus gitu dan pendek serinya (jadi gak capek ati ngikutin). Tapi yagitu, dramanya kan gak ditayangin di Indonesia dan biasanya di dub which is so lame, dan agak males gak sih mesti ngikutin tiap hari kalo ketinggalan satu kali aja ya udah, lewat. Nah makanya dari dulu gue pengen minjem dvd-nya aja. Tapi gak kesampean sampai kemarin...

Jadiii gue dipinjemon harddisk temen gue yang ternyata OASE BANGET WOY. Semua ada disitu mulai dari drama Korea sampe The Sims. Aduh lopelope, Gab.

Okee balik lagi ke FBND! Ceritanya pas awal gak gitu unyu sihh malah cenderung membingungkan gitu hahaha aduh tolong gue gak mengerti. Mana cewek tokoh utamanya tuh kayak seorang hikokomori yang mengurung diri di rumah. Gue agak jijay gitu sama rambutnya yang kayak gak keramas :p Terus kesan pertama gue sama cowok tokoh utamanya dia kayak charming gitu rame yaah bagus deh. Dan ternyata, semakin ke belakang adegan unyu nya makin banyak horeee. Semakin cerita berlanjut si cewek, yang ceritanya takut sama dunia luar, mulai ngomong gituu aduh akhirnya. Terus dia juga mulai keramas :') Rambutnya bagus gitu setelah dia keramas, dan gue baru nyadar dia Park Shin Hye yang main di Ms. Granny dan stickernya ada di LINE omaigaat. Pantes ajee rambut ga keramas juga cantik -_-

she doesn't wash her hair either.. this series needs shampoo.

Gue juga lumayan suka sama tokoh sampingannya, si editor contohnya yang kocak banget mukanya ngakak gak nahan kalo liat dia selalu!!! Terus pas adegan mau nyuri mobil kakaknya Jin Rak juga si Dong Yoon tolol abis.. (dan si editor sama Dong Yoon akhirnya jadian cieee makin kocak ya kalian).

kurang kocak apa sih dia
Ada juga satu inspiring moment. Jadi ceritanya kebanyakan tokoh ini tinggal di semacam flat gitu, yang anehnya gak perlu bayar uang jaminan tapi kalau telat bayar sewa bulanan sehari aja bakal langsung didepak. Tadinya para penyewa gak tau apa sebabnya, tapi kemudian ketika ketauan siapa pemilik gedung itu (yang adalah si satpam ternyata..), si bapak menjelaskan alasannya. Dia ingat ketika muda dulu dia susah dan kelaparan, lalu dia berjanji akan membantu orang lain juga nantinya kalau ada orang yang mau menampung dia. Si bapak yang-gak-taunya-bijak-abis bilang, anak muda tidak perlu membayar jaminan karena dia tau anak muda itu gak punya modal awal, masa mesti bayar jaminan. Tapi anak muda masih bisa berusaha keras dan makanya, gak boleh telat bayar sewa bulanan. Kalau telat sehari aja ditolerir nanti akan jadi kebiasaan dan sebagainya. Gilaaaaaaaa bijak bangeeet. DUNIA INI PERLU ORANG KAYAK GITU LEBIH BANYAK WOY. *marah*


Anyway, ini film pantes untuk ditonton! Endingnya lucu banget kokk mereka, dan usaha yang ditampilin sepanjang seri ini supaya si cewek tokoh utama sembuh dari luka batinnya itu oke banget.

Friday, June 6, 2014

Review: The Curious Case of Benjamin Button

Another review after a break. I watched this on April so yeah, after some time forcing my brain for school stuff I lost a few details about the film so pardon me for the gajeness :(

The Curious Case of Benjamin Button. Udah lamaa banget film ini masuk wishlist gue, tepatnya sejak gue masih kelas 3 SD. Sebagai anak SD kekurangan bahan bacaan, dulu gue demen banget baca Kompas (hahaha). Jadi di bagian Klasika suka ada komik strip Spiderman yang kayaknya masih berlanjut sampe sekarang deh. Nah, sering juga ada review beberapa film dan suatu hari ada film ini. Fix parah sinopsisnya bikin gue penasaran dan pengeeen banget nonton. Tapi yah apa daya, sebagai seorang anak SD yang gak punya uang maupun sarana memadai, gue cuman bisa bilang pengen tapi nontonnya nggak. Barulah ketika gue baru tau torrent kemaren (SUPER TELAT SIH) gue inget lagi akan film ini dan download.

Gak nyesel nunggu 6 tahun buat film ini.



Jadi film ini bercerita tentang seseorang bernama Benjamin yang alur hidupnya kebalik, dia lahir dalam wujud orang tua duluan baru kemudian ketika orang-orang menua, dia justru menjadi semakin muda. Bahkan prolog kayak gini aja sukses bikin gue langsung penasaran mati buat nonton.

Dan ternyata ya emang ga nyesel :') Gue emang bukan tipe-tipe orang yang suka nonton film berantem gitu sih yang ada tokoh musuhnya dan sebagainya. Nah film ini bener-bener menceritakan kehidupan si Benjamin Button, jadi kita disuguhi perjalanan hidupnya dia gitu. Dan menurut gue banyak banget hal yang bisa didapat dari hanya menonton perjalanan hidup seseorang.

Sewaktu lahir, Benjamin dibuang oleh ayahnya dan ditinggalkan di sebuah panti jompo. Dia dirawat oleh Tizzy yang akrab dipanggil oleh Benjamin sebagai 'Mama'. Karena Benjamin tinggal di semacam panti jompo, jadi dia udah berasa salah satu diantara orang-orang tua itu. Lucu aja, orang-orang tersebut satu per satu meninggal dan kamar satu per satu kosong dan Benjamin menyaksikan semuanya. Lalu lambat laun akhirnya dia sadar kalo misalnya pertumbuhan dia terbalik. Ada adegan kocak dimana dia dibawa ke sebuah acara pelayanan gitu dan dia didoakan agar bisa berjalan. Lucu karena dia memang bisa berjalan karena ya emang di umur segitu dia udah seharusnya bisa jalan tapi orang-orang mengira itu sebuah keajaiban. Banyak lagi hal-hal freak tapi lucu di film ini yang gak bisa disebutkan satu-satu karena gue lupa. Tapi yang pasti hal paling keren sepanjang film adalah si Benjamin sendiri yang jadi semakin muda. Ya gimana sih, ngeliat si tokoh utamanya jadi makin keren.. 

Tapi sebenernya inti dari semua cerita itu adalah hubungan antara Benjamin dengan Daisy. Mereka pertama kali ketemu ketika Daisy berumur 6 tahun yang artinya saat itu Benjamin secara fisik berumur 74 tahun. Sebenernya mereka lucu bangeeet tapi sayangnya karena Benjamin terlihat tua banget jadi dia gak pantes kalo deket-deket sama anak kecil :( Terus mereka main bareng-bareng gitu udah kayak kakak adek (padahal fisiknya beda jauh banget umurnya!). Sesuai logika aja, kalo yang satu makin muda dan yang satu makin tua, pastilah akhirnya mereka ketemu ketika umur mereka udah di tengah-tengah kan? Fix banget jadinya sepanjang film gue nungguin kapan mereka sampai di titik ekuivalen (widihh) itu.

Karena kita bisa baca sendiri full spoilernya di Wikipedia gue skip-skip aja ya hoho. Ada beberapa bagian yang berkesan sih di film ini. Ayah dari Benjamin Button sebenernya adalah seorang kaya raya. Bersamaan dengan lahirnya Benjamin, istrinya meninggal dunia. Praktis setelah ia meninggalkan Benjamin, si papanya ini jadi sendirian. Nah menurut gue sih yang terjadi pada kebanyakan orang sama ya, pada akhirnya kita butuh seseorang untuk menemani kita apalagi di usia senja kita. Agak sedih saat papanya mencoba meminta maaf ke Benjamin dan memintanya untuk menerima warisan darinya dan sebagainya. Kemudian ketika 'Mama' Benjamin, Tizzy, meninggal, gue sempet nangis. Itu gila sedih banget apalagi emang cuma Tizzy yang ada buat Benjamin dari awal kehidupan dia. Kemudian adalagi Daisy yang menurut gue hubungannya dengan Benjamin kayak semacam tarik ulur gitu. Tapi kemudian sampailah kita pada satu titik dimana Daisy boleh dibilang ada di lowest point dia dan orang yang ada buat dia ya hanya Benjamin.

Lalu gue menyimpulkan satu pernyataan dari film ini, we all need people to be here forever alongside us and when we have there people we would consider them the best people on earth, someone we love. :')

Ah cheesy bener ah. Oke kembali lagi ke filmnya. Ternyata ending dari film epic ini sendiri so sweet banget.. Bagaikan dua kutub berlawanan, mereka juga berakhir di dua titik yang berlawanan. Setelah cocok di 'titik ekuivalen' tadi, Benjamin mulai tumbuh lebih muda lagi dan Daisy jadi semakin tua. Mereka punya seorang anak perempuan (yang menjadi pembaca dari buku diari Benjamin sejak awal film). Karena itu akhirnya Benjamin memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua karena tak sanggup harus hidup bersama sang anak tapi tak bisa menjadi figur seorang ayah yang tepat. Benjamin dan Daisy sempat bertemu lagi ketika Benjamin sudah menjadi seorang remaja 17 tahun. Setelah itu pertemuan mereka kembali terjadi lagi di tempat mereka bertemu, yaitu di panti jompo tempat Benjamin menghabiskan tahun-tahun pertamanya. Hanya saja saat ini Benjamin sudah menjadi seorang balita yang menderita dementia, dia tak ingat siapapun dan menjadi pemberontak. Di tahap ini Daisy akhirnya memutuskan untuk mengurus Benjamin. Di akhir film, Benjamin sekarang sudah tampak seperti bayi kecil sementara Daisy sudah berusia lanjut. Momen dimana Benjamin akhirnya menghembuskan napas terakhir itu keren parah. Selama Daisy mengurus Benjamin muda, Benjamin sama sekali tak tahu siapa dirinya. And then Daisy said.., "And in the spring, 2003, he looked at me. And I knew, that he knew, who I was. And then he closed his eyes, as if to go to sleep." SWEET PARAH.

Yak segitu mungkin review dari guee. Agak ga jelas sih memang kadang gue juga gangerti apa yang gue ketik h3h3h3. Tapi yang pasti, ini film mantep banget untuk ditonton.. Dan btw, gue baru sadar dari film ini kalo Brad Pitt emang seganteng yang orang-orang bilang (?) Biarpun agak mirip Thor sih dia..

The best lines throughout the movie:

Benjamin, we're meant to lose the people we love. How else would we know how important they are to us?
It's funny how sometimes the people we remember the least make the greatest impression on us.
"Would you still love me if I were old and saggy?" "Would you still love me if I were young and had acne? When I'm afraid of what's under the stairs? Or if I end up wetting the bed?"

Wednesday, December 18, 2013

Some Great Great Movies [SPOILER ALERT]

Hugo Cabret and Isabelle on Hugo (2011)

Biasanya gue suka banget kasih review segala sesuatu beserta sinopsisnya. Tapi gue terlalu capek sodara-sodara. Instead, kali ini gue akan kasih review 4 film sekaligus tapi gak ada sinopsis lengkapnya. Hanya saja yaa seperti biasa, postingan gue berisi spoiler-spoiler gituu. Tapi gue gak cuma akan membicarakan soal film aja tapi gue ngomongin soal faktor di luar film tersebut atau kesan apa yang gue dapet.

Seperti yang udah kalian tau (plis baca postingan gue sebelumnya! Liburan ini gue punya banyak banget stok film dan banyak film yang ternyata keren banget. Gue gak sabar untuk membagikan pengalaman gue ke kalian dan hasilnya adalah postingan ini! Salah satu postingan yang menurut gue cukup niat di tengah kesibukan gue main COC dan kemalasan gue dalam nge-blog akhir-akhir ini.

Film-film yang akan gue review (berasa kayak om riviuw) adalah Pitch Pefect, The King's Speech, Hugo, dan You Are The Apple of My Eye. Believe me when I say these are good movies, that means I want to re-watch them. Sama aja kayak novel, setebel apapun kalo seru pasti wajib gue tonton ulang.

Cekidot!

* * *
Pitch Perfect

Pitch Perfect, a perfect movie.
Sebagian besar dari kalian pasti udah nonton TV dongg sekitar tahun 2000-an? Nah ada beberapa di antara kita yang masih kecil ataupun sudah besar (menjelaskan banget kalimat ini). Gue termasuk yang masih kecil saat itu, indikatornya adalah nonton apapun yang dinyalain mbak di TV gue tonton juga. Salah satu acara TV yang gue tonton jaman gue TK adalah AFI, Akademi Fantasi Indosiar. Acara nyanyi-nyanyi gitu deh. Ada salah satu juri yang demen banget bilang, "Pitch control kamu perlu dilatih lagi ya." That time I didn't even care what that is but I knew that 'pitch' is a cool vocab. Sekarang gue juga gak tau pitch control itu apa dan untuk apa karena gue bukan orang musik, tapi kalo denger kata pitch yaa pengertiannya ga jauh-jauh lah dari nyanyi-nyanyi.

Makanya ketika gue tau judul film ini gue berpikir, ah pasti tentang nyanyi-nyanyi nih. Dan ternyata gue bener. Gue sebagai orang yang rada wicked nyolong baca spoilernya di wikipedia dan gue... kurang tertarik. Tapi semua itu berubah ketika gue beneran punya filmnya dan memutuskan untuk nonton. FILM-NYA KEREN BANGET YAAMPUN!

Thursday, February 28, 2013

Review: The Alchemist / Sang Alkemis by Paulo Coelho

Ada banyak cerita soal buku yang kali ini.

Jadi sebetulnya ada dua buku yang judulnya mirip, The Achemist karyanya Paulo Coelho, dan The Alchemyst karya Michael Scott. Yang kedua lebih ke arah fiksi yang entertaining tapi yang gue baca adalah yang pertama, yang lebih sarat akan nilai.

Pas gue SMP, di perpustakaan gue itu ada Sang Alkemis, versi Indonesia-nya The Alchemist. Gue gak berminat gitu sama bukunya, karena kok bukan seperti buku yang punya jalan cerita, gue takut kalo itu cuma buku yang isinya renungan-renungan. Gak bisa buat menghibur di waktu luang. Waktu itu di perpustakaan gue yang cover-nya begini: 
Sang Alkemis yang dikasih tau Dean
Jadi sebetulnya Dean, temen sekelas gue pas kelas 8 dan 9 pernah bilang gini, "Na, coba baca ini deh bagus bukunya." Gue lupa dia kasih tau dimana tapi pas gue liat ke perpusnya, gue masih juga gak tertarik.

Dua tahun kemudian, gue menemukan buku ini lagi. Karena gue jadi suka sama bacaan yang filosofis dan semacam itulah, gue jadi niat minjem.

Dan asli, ini keren banget bukunya.

***

Sang Alkemis by Paulo Coelho

[SPOILER ALERT]

Sang Alkemis by Paulo Coelho

Santiago merupakan seorang gembala dan dia adalah mantan calon pastur. Dia meninggalkan seminari karena keinginannya untuk mengelilingi dunia, dan untuk mengakomodasi keinginannya dia menjadi gembala. Sepanjang cerita Santiago dipanggil 'Si Bocah' dan inilah faktor yang membuat gue malas membacanya sewaktu SMP dulu, karena gue pikir tokohnya tanpa nama dan cerita ini tanpa alur. Nyatanya alur yang disajikan sangat menarik meskipun tidak detail, karena penulis mementingkan maknanya.

Suatu hari Santiago sedang dalam perjalanannya pergi ke suatu toko untuk menjual bulu dombanya dan bertemu dengan putri tukang kain yang ia sukai. Sewaktu Santiago dalam perjalanan dan beristirahat di reruntuhan gereja, ia mendapati bahwa ia memimpikan hal yang sama berulang-ulang: Ia sedang berada di Mesir dan mendapatkan harta yang berlimpah. Akhirnya ia pergi ke Tarifa dan menemui seorang wanita tua yang merupakan seorang gipsi. Dikatakan bahwa ia mampu menafsirkan mimpi. Sang gipsi memberikan syarat untuk memberinya 1/10 harta yang nanti ia dapat dan memberitahu bahwa hartanya ada di piramida di Mesir dan ia harus pergi ke sana. Santiago menerima hal ini dengan malas karena sang gipsi hanya memberi tahu apa yang sudah ia mimpikan, tanpa tafsiran.

Kemudian Santiago dipertemukan dengan seorang raja tua yang bernama Melkisedekh dan raja ini memberinya saran yang sama agar mengejar hartanya di Mesir. Hanya saja Melkisedekh meminta bayaran 1/10 dombanya sebab menurutnya, kita jangan menjanjikan sesuatu dengan apa yang belum kita miliki. Karena jika demikian kita tidak terpacu untuk mendapatkan sesuatu itu. Melkisedekh memberikan petuah yang lebih mumpuni daripada yang diberikan si gipsi di Tarifa dan akhirnya Santiago betul-betul terpacu untuk pergi ke Mesir. Melkisedekh memberikan batu Urim dan Thummim untuk menentukan pilihan Ya atau Tidak.

Sesampainya di Afrika, ia dirampok. Semua hartanya yang didapat dari menjual dombanya dirampok dan akhirnya membawa Santiago untuk bekerja mengumpulkan uang di sebuah toko kristal. Disana ia memajukan toko itu dan akhirnya mendapat cukup uang untuk pergi ke Mesir, menyeberangi gurun dengan rombongan karavan. Di rombongan itu ia bertemu dengan seorang Inggris yang telah bepergian kesana kemari untuk menjadi seorang alkemis, yang menurut gosip telah hidup selama 200 tahun di oasis di Mesir.

Melewati situasi perang suku yang terjadi di gurun, rombongan itu akhirnya sampai di oasis. Di luar dugaan Santiago justru bertemu cinta sejatinya disini. Cinta yang berbicara padanya dalam Bahasa Buana. Ternyata jodohnya bukanlah putri tukang roti itu melainkan seorang gadis gurun yang tinggal di oasis. Di tempat ini Santiago akhirnya memutuskan untuk mengejar Legenda Pribadi-nya. Tetapi sebelum keberangkatannya ia membaca suatu pertanda yang memberitahunya bahwa serombongan pasukan akan datang menyerbu oasis. Ia memberitahukan kabar ini kepada kepala suku dan ternyata ramalannya benar. Ia diangkat menjadi penasihat oasis itu, persis seperti cerita Yusuf di Alkitab.

Kemudian karena tafsirannya, akhirnya ia dapat bertemu sang alkemis. Alkemis itu menetapkan hatinya untuk pergi melanjutkan perjalanan mengejar Legenda Pribadinya dan memberitahu masa depannya jika ia memutuskan tetap menjadi penasihat oasis. Santiago akhirnya pergi setelah ia ingat bahwa cinta tidak menghalanginya menuju Legenda Pribadinya, dan bahwa Fatima, nama gadis gurun itu, pun tidak menghalanginya untuk mengejar Legenda Pribadi-nya. Ia akhirnya bersama dengan sang alkemis pergi ke Mesir.

Sepanjang perjalanan, banyak hal baru yang dipelajari Santiago. Ia belajar mendengarkan hatinya yang berbicara dalam Bahasa Buana. Santiago dan sang alkemis sempat ditahan oleh sepasukan suku. Karena penahanan ini akhirnya Santiago mampu berbicara dengan gurun, angin, dan matahari. Sang alkemis senang karena ia telah menemukan murid yang sempuran.

Setelah dilepas dari penahanan, sang alkemis membawa Santiago untuk singgah ke sebuah rumah biarawan. Disini Santiago akhirnya melihat sang alkemis yang mampu merubah timah menjadi emas. Santiago minta agar diajarkan tapi sang alkemis hanya berkata, "Ini Legenda Pribadi-ku, bukan Legenda Pribadi-mu." Sang alkemis membagi emas itu menjadi empat, satu untuknya, satu untuk Si Bocah, satu untuk si biarawan, dan satu untuk diberikan kepada si biarawan apabila Santiago kembali membutuhkannya. "Apa yang terjadi sekali mungkin hanya terjadi sekali, tapi apa yang terjadi dua kali pasti akan terjadi lagi."

Santiago sampai di piramida di Mesir dan ia kembali membaca pertanda dengan melihat kumbang hitam, tanda kehadiran Tuhan di Mesir. Ia terus menggali sampai ditemukan oleh sekelompok pengungsi dari perang suku. Santiago tidak menjawab dan malah diperiksa oleh pengungsi-pengungsi tersebut yang menemukan emas di tasnya. Para pengungsi mengira bahwa Santiago menyembunyikan lebih banyak emas dan ia dipaksa terus menggali sambil dipukuli. Akhirnya Santiago berteriak bahwa ia mencari hartanya yang ada dalam mimpi (ia telah belajar bahwa ketika kau jujur malah orang akan tidak percaya dan menertawakan).

Seorang kepala rombongan akhirnya meninggalkannya dan menyuruhnya melupakan mimpi itu, ia berkata, "Kamu tidak akan mati. Kamu akan hidup, dan kamu akan belajar bahwa seorang lelaki tidak boleh bodoh. Dua tahun lalu, tepat di sini, aku juga mendapat mimpi yang berulang. Aku bermimpi bahwa aku harus berkelana ke ladang-ladang di Spanyol dan mencari sebuah gereja yang rusak tempat para gembala dan domba-domba tidur. Dalam mimpiku, ada pohon sikamor yang tumbuh di reruntuhan sakristi, dan aku diberitahu bahwa, jika aku menggali akar pohon sikamor itu, aku akan menemukan harta terpendam. Tapi aku tidak begitu bodoh sampai aku mau menyeberangi gurun yang luas hanya untuk mimpi yang datang berulang."

Lalu Santiago ditertawakan, dan Santiago balik menertawakan. Karena dia tahu tempat itu adalah tempat dimana ia pertama kali memimpikan harta di Mesir.

***

Cerita yang sangat bagus. Benar jika dikatakan ini adalah sebuah dongeng; dongeng modern yang menawarkan kepada kita nilai-nilai yang sangat bagus. Kita tau bahwa emas tidak bisa diciptakan dan mungkin tidak ada alkemis di dunia ini, tapi ada petuah nyata disini. Ketika kita begitu menginginkan sesuatu maka alam akan bersatu padu untuk mewujudkan keinginan kita. Gue pernah baca hal ini di blog Raditya Dika dan temen gue, Abner, juga pernah ngomong begini. Kita juga sebaiknya jangan mengabaikan pertanda. Harus lebih perhatian kepada lingkungan sekitar.

Menariknya lagi disini banyak juga diceritakan dongeng, jadi dongeng di dalam dongeng yang berkaitan dengan kisah di Perjanjian Lama. Contohnya cerita Yusuf dan cerita tentang perwira Romawi yang kata-katanya dipakai di misa Gereja Katolik sekarang, "Ya Tuhan saya tidak pantas Tuhan datang kepada saya, tapi bersabdalah saja maka saya akan sembuh. Amin." Keren. Banget.

Ngomong-ngomong pertanda, apa ini cara Tuhan supaya gue baca ini sekarang dan bukan 2 tahun lalu? Who knows..

Rate 4.9 / 5.0

Review: Dwilogi Padang Bulan - Cinta di Dalam Gelas by Andrea Hirata

Yak kembali lagi ke review buku-bukuuu!

Jadi ini untuk menjawab pertanyaan kita semua di postingan gue yang ini, dimana Maryamah Karpov gak terjelaskan dengan baik di buku yang memakai judul namanya itu.

Sebelumnya lagi-lagi gue menemukan buku ini di LIA Pramuka dan... Gue peminjam pertama lhoo. Pas banget juga gue disuruh bikin resensi sama sekolah, jadi sebelumnya mari kita simak duluu resensi tugas sekolah gue. Ini asli bikinan gue ya dan gue nge-post ini setelah gue kumpulin sama gurunya yaa.

***



Epos Modern, Perjuangan Wanita Melayu di Atas Papan Catur


Judul               : Dwilogi Padang Bulan: Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas
Pengarang      : Andrea Hirata
Penerbit          : Bentang
Tahun terbit    : 2010
Cetakan          : Cetakan kedua
Tebal buku     : xiv + 252 dan xiii + 264
Harga              : Rp 76,500


Enong merupakan salah satu dari sekian banyak anak kecil di dunia ini yang tiba-tiba ditinggal oleh sang ayah tercinta. Hanya saja Enong merupakan segelintir dari mereka yang harus mengambil alih posisi kepala keluarga dan mencari nafkah. Enong terpaksa harus putus sekolah dan membuang jauh-jauh cita-citanya sebagai seorang guru bahasa Inggris. Setelah gagal merantau di Tanjong Pandan akhirnya Enong mengikuti jejak ayahnya, menjadi pendulang timah. Tekad si kecil Enong yang luar biasa telah melewati cobaan dari cemoohan hingga yang paling berat sekalipun termasuk percobaan pembunuhan dalam perebutan timah, tenyata memampukan ia menjadi pendulang timah wanita pertama di Belitong.
            Di dalam sekuel kedua dwilogi ini, Enong kembali mengalami cobaan. Kali ini ia berjuang untuk menegakkan emansipasi wanita di kampungnya ─dengan bertanding catur. Menjadi seorang wanita tak berpendidikan di sebuah kampung Melayu yang menganut syari’at Islam taat mengenai derajat seorang wanita sampai hukum muhrim membuat hal ini nyaris mustahil. Terlebih lagi Enong harus melawan kenyataan bahwa ia tak pernah memegang bidak catur dan bahwa catur merupakan simbolisasi seorang penghancur hidupnya, ─sang mantan suami.
            Kisah mengenai perjuangan hidup yang dialami seorang perempuan kaum marginal di daerah terpencil wilayah Indonesia ini dikemas secara apik dengan soft cover berhiaskan lukisan pelukis Bali, Budi Gugi, yang secara kurang lebih menggambarkan ceritanya. Pada Padang Bulan yang memang kental nuansa percintaannya, terpampang lukisan dua merpati di atas pohon yang cantik. Pada Cinta di Dalam Gelas, tampak orang-orang yang seperti ingin menyampaikan kesan sosial yang tergambar di masyarakat Melayu tersebut. Nilai tambah terutama didapat dari bersatunya dua buku dalam dwilogi tersebut. Hal ini selain memberikan kesan unik tetapi juga membuat kisah-kisah Enong dapat dibaca secara tuntas tanpa harus membawa beberapa buku dalam satu waktu. Menggunakan bahan kertas yang kuat namun lentur memberikan bobot yang ringan pada buku ini. Sehingga meskipun dengan ukuran 20x13cm, buku ini masih nyaman untuk dibawa-bawa.
Barangkali berbekal dari pengalamannya, Dwilogi Padang Bulan dipenuhi oleh perjuangan dan pembelajaran seseorang. Masih dengan gayanya yang menggunakan perbendaharaan kata Melayu membuat buku ini menjadi sarat makna tetapi juga menjadi pisau bermata dua, karena terkadang sulit dimengerti. Tak hanya tata bahasa, Andrea Hirata menawarkan jalan cerita unik yang tidak menjadi tren di masyarakat. Namun tak dapat dipungkiri hal ini membuat karya Andrea Hirata menjadi menarik. Masa kecil Andrea Hirata di perkampungan Melayu membuatnya telah melewati riset mendalam selama bertahun-tahun dan semakin mendetailkan latar cerita. Terlebih lagi Andrea Hirata menggunakan sudut pandang orang pertama sehingga ia semakin leluasa dalam mengisahkan segala sesuatu. Gayanya yang menyelipkan bahan tertawaan yang meskipun terkadang tidak diperlukan tetapi mampu membuat buku ini tidak kering dan melulu terfokus dalam satu titik. Turut menyuguhkan perspektif politik kaum marginal dan nilai-nilai yang terlupakan, Andrea Hirata telah menjadikan buku ini kaya akan makna kehidupan.
            Andrea Hirata merupakan seorang penulis kelahiran Belitong pada 24 Oktober dengan nama Aqil Barraq Badruddin. Saat Andrea menginjak usia remaja ia merasa terbebani dengan nama itu dan akhirnya berganti nama menjadi Wadhud, sebelum akhirnya menggantinya lagi menjadi Andrea Hirata Seman Said Harun. Lahir dan besar di lingkungan miskin di daerah terpelosok Belitong tidak membuatnya kehilangan semangat belajar. Ketika merantau di Bogor mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Nasib baik menyambutnya dan ia mendapat beasiswa Uni-Eropa untuk mengambil S2 di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University. Setelah lulus cum laude Andrea kembali ke tanah air dan bekerja di PT Telkom. Meskipun begitu hal ini tidak menguburkan niatnya untuk menulis. Iseng menyusun naskah Laskar Pelangi, ternyata novel pertamanya ini mendapat perhatian besar masyarakat yang membesarkan namanya hingga kini.
            Bagi pembaca setia karya Andrea Hirata, dwilogi ini sekaligus menjawab pertanyaan tak terjawab di Maryamah Karpov. Tetapi sesungguhnya melalui novel ini, Andrea Hirata mengajak kita untuk melalui Enong ─yang juga memerjuangkan emansipasi wanita di kampungnya─ untuk selalu tabah dalam menjalani kehidupan berikut lika-likunya karena seperti kata Enong, ”Aku telah menangisi ibuku semalaman, Boi, aku tak kan menangis lagi.” Masalah hari ini biarlah untuk hari ini tetapi kita tetap harus menjalani hidup. Melalui novel yang sama Andrea ingin menyuguhkan para pembacanya nilai-nilai yang telah lama terlupakan dan dikemas secara apik lewat cerita tentang perjuangan seorang wanita di atas papan hitam putih layaknya sebuah epos. Bahwa wanita itu tak pernah mengenal catur dan bahkan trauma terhadap catur patut menjadi catatan. Belajar tidak mengenal batasan dan ketika Anda mau, disaat itulah Anda mampu belajar. Dengan demikian belajar dengan keras hanya dapat dilakukan orang yang bukan penakut dan bertekad baja. Andrea Hirata sukses membuktikan bahwa novelnya dengan genre tak umum namun mengemas sisi lain kehidupan sehari-hari ini selain mampu menambah wawasan pembaca tetapi juga mampu disandingkan dengan novel percintaan remaja yang sedang tren. Tak hanya menyasar generasi muda yang haus akan nilai kehidupan, novel ini juga menyasar pembaca dewasa tak terkecuali pembaca lanjut usia yang ingin sekedar bernostalgia akan kehidupan masyarakat Melayu tradisional yang mulai pudar. 


***

Yak, seperti yang gue bilang di atas sih semua penilaian gue.. Ini membahas tuntas masalah Maryamah Karpov, saking tuntasnya sampai di novel yang kedua si Ikal gak pergi-pergi juga ke Jakarta. Gue suka sih sama novel yang ini, karena pemberian judulnya lebih baik daripada di buku sebelumnya.

Ohya.. Review gue gak asik tanpa spoiler! Jadi, kerennya disini itu permainan caturnya si Maryamah yang seperti menemukan rumah yang tak pernah ditemukannya, catur. Kerennya lagi dia berhasil membela martabatnya sebagai wanita dengan mengalahkan mantan suaminya lewat catur.

Gak enaknya adalah gue gak ngerti dengan timeline-nya. Di Maryamah Karpov, si Maryamah punya anak yang namanya Nurmi dan pandai memainkan biola. Tapi Nurmi sama sekali tak disebut di Dwilogi Padang Bulan. Selain itu seharusnya saat Ikal bertemu Nurmi di Maryamah Karpov, Ikal baru pulang ke Belitung dan belum bekerja di warung kopi pamannya. Disini Nurmi sudah dijelaskan bahwa dia adalah anak dari Maryamah yang disebut Maryamah Karpov. Tapi di Dwilogi Padang Bulan, Maryamah barulah disebut Maryamah Karpov setelah dia mengalahkan Matarom, mantan suaminya. Dan hal ini terjadi ketika Ikal sudah agak lama tinggal di Belitung. Bingung? Saya juga.

Anywayyy ini buku yang bagus buat kalian bacanya, ceritanya ringan tapi bahasanya tidak. Lumayan memukau!

Rate 3.6 / 5.0